Selasa, 19 April 2011


BAB II
PEMBAHASAN

A.    DEFINISI
1.      Gangguan kepribadian
·         Gangguan adalah: hal yang menyebabkan ketidakwarasan atau ketidaknormalan (tentang jiwa, kesehatan dan pikiran).
·         Carole wade dan carol tavris
Kepribadian adalah pola-pola perilaku,tata krama,pemikiran, motif,dan emosi yang khas,yang memberikan karakter kepada individu sepanjang waktu dan pada berbagai situasi yang berbeda.
·         Millon
Gangguan kepribadian adalah akan menciptakan berbagai cara yang kontras dalam memandang dan menghadapi(suatu gangguan aksis I pada individu)-nya. karena alasan-alasan tersebut,kami yakin bahwa para ahli klinis harus berorientasi pada”konteks kepribadian”ketika mereka menghadapi .....semua bentuk gangguan psikiatrik(aksis I).(1996,hlm.Vii).
·         Gerald C.Davison,Jhon M.Neale dan Ann M.Kring
Gangguan kepribadian adalah kelompok gangguan yang sangat heterogen,diberi kode pada akses II dalam DSM dan dianggap sebagai pola perilaku dan pengalaman internal yang bertahan lama,pervasif,dan tidak fleksibel yang menyimpang dari ekspektasi budaya orang yang bersangkutan dan menyebabkan hendaya(ketidak mampuan) dalam keberfungsian sosial dan perkerjaan.
Gangguan kepribadian adalah adanya kekurangan atau gangguan dalam jiwa yang tampil dalam perilaku sehari-hari.
Gangguan kepribadian adalah gangguan-gangguan dalam perilaku yang memberikan dampak atau dinilai negatif oleh masyarakat.
Gangguan kepribadian dalam DSM III yaitu:”sifat-sifat dalam kepribadian yang merupakan pola-pola yang berkelanjutan dalam hal perceiving(mempersepsi,menanggapi),berelasi,atau berfikir mengenai lingkungan dan dirinya sendiri sehingga ditampilkan dalam rentang yang luas mengenai konteks-konteks pribadi dan sosial yang penting”.
Kepribadian dan gangguan kepribadian ditentukan oleh informasi yang diperoleh dari tiga sumber utama informasi: self, laporan pengamatan perilaku dan pengamatan orang lain.DSM-IVR 10 jenis personality disorder menjadi tiga kelompok umum (Jurnal, Widger Dkk, 2002).

  Tantangan hidup dijalan atau ditempat penumpangan ( fischer & breaky, 1991) meskipun diagnosis gangguan kepribadian membutuhkan onset sebelum dewasa, meskipun banyak gejala aspd bisa menjadi konsekuensi skunder penyalagunaan zat atau perilaku hidup berorientasi terkait dengan tunawisma, atau sedikit bukti menyebabkan tunawisma aspd. Pada anak diagnosis gangguan perilaku pola kronis, kriminalitas, kekerasan, dan penahanan lebih menunjukan pola jangka panjang penyimpangan (utara ctal, 1995 solomun ctal, 1992) meskipun demikian harus ditekankan bahwa masalah tunawisma tidak dapat dikaitkan semata-mata atau bahkan tyerutama dengan kehadiran kepribadian. Gangguan atau bentuk lain penyakit mental , melainkan terjadi pada konteks social banyak factor yang berkontribusi ( draino, salzor, eulhanan & hadlo, 2002) sejahu mana individu dengan berat dan gigih, masalah keprinadian berada pada resiko yang lebih besar untuk social yang terkait dengan tunawisma dan sejahu mana tunawisma berkontribusi untuk pengembangan atau perawatan. gejala gangguan kepribadian adalah pertanyaan penting untuk penelitian masa depan. Masa depan penelitian juga harus menyelidiki kebutuhan seperti kompleks. Multi masalah sekelompok orang sementara, juga dengan seksama  dengan pertimbangan pentingnya factor stuksulal ( misalnya: kemiskinan, kurangnya perumahan, pengangguran, kejahatan, gangguan keluarga dan lingkungan) yang menghalangi akses pemanfaatan refensi, dan penggunaan layana yang efektif, berlangsung lama deficit social, emosi kognitif, persepsi, dan perilaku berfungsi yang mendefinisikan gangguan kepribadian tempatnya cirri kronis orang tunawisma dan mungkin mengganggu pemanfaatan pelayanan yang efekti dan pemeliharaan perumahan yang stabil.(jurnal)


2.      Jenis-jenis gangguan kepribadian
a.       Kepribadian paranoid
 Terdapat ketidakpercayaan dan kecurigaan pervasive terhadap orang lain akan berniat jahat terhadap dirinya, berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam berbagai konteks. Mereka umunya dingin dan menjauh dari hubungan.Dalam cluster paranoit ditandai dengan kecocokan rendah. (Jurnal, Widger Dkk, 2002)

b.      Kepribadian skozoid
Terdapat pola perilaku yang bersifat pervasive berupa pelepasan diri dari hubungan social disertai kemampuan ekspresi emosi yang terbatas dalam hubungan interpersonal, berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam berbagai konteks. Mereka seringkali tertarik pada pemikiran dan perasaan mereka sendiri dan takut berhubungan secara intim dan dekat dengan orang lain. Mereka bicara sedikit, sering melamun, dan lebih suka membicarakan teori ketimbang melakukan aksi. Skizofren ditandai dengan extraversion. (Jurnal, Widger Dkk, 2002)

c.       Kepribadian antisocial
Ditandai oleh tindakan anti social atau criminal yang terus-menerus tetapi tidak sinonim dengan kriminalitas. Terdapat pola perilaku bersifat pervasive berupa sifat pengabaian dan pelanggaran hak orang lain, berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam berbagai konteks. Biasanya timbul karena perbedaan yang besar antara perilaku dan norma social yang berlaku.
hipotesis ini telah didukung oleh data yang dikumpulkan dari orang yang tidak terkait. Data tersebut telah memungkinkan untuk multivariatanalisis yang diamati, korelasi fenotipik antara gangguan mental.Analisis ini telah mengungkapkan faktor, laten yang luas menghubungkansubstansi ketergantungan dan gangguan perilaku antisosial pada akhir remaja dan dewasa. (Achenbach & Edelbrock, 1978, 1984), Dasar etiologi dari Faktor eksternalisasi Penelitian terbaru menunjukkan hipotesis bahwa faktor genetik bermain peran penting dalam penyebab faktor eksternalisasi dalam remaja dan dewasa. Pertama, banyak besar-besaran, wellconducted studi sekarang menunjukkan faktor genetik dalam penyebab tertentu perilaku gangguan antisocial (Jurnal, Robet F, Krueger Dkk. 2002). Dalam cluster n antisocial ditandai kecocokan rendah dan kesadaran rendah. (Jurnal, Widger Dkk, 2002)

d.      Kepribadian ambang
Pasien dengan gangguan kepribadian ambang (emosional tidak stabil) berada pada perbatasan antara neurosis dan psikosis. Suatu gangguan kepribadian di mana terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsive tanpa mempertimbangkan konsekuensi, bersamaan dengan ketidakstabilan afek. Dua varian dari gangguan kepribadian ini telah ditentukan dan keduanya mempunyai persamaan motif umum berupa impulsivitas dan kekurangan pengendalian diri.
e.       Kepribadian histionik
Terdapat pola perilaku berupa emosi yang berlebihan dan menarik perhatian yang bersifat pervasive, sejak awal usia muda dan timbul dalam berbagai konteks. Histionik ditandai oleh extraversion yang tinggi. (Jurnal, Widger Dkk, 2002)

f.       Kepribadian anakastik
Pola perilaku berupa preokupasi dengan keteraturan, perfeksinisme, control mental dan hubungan interpersonal, serta peraturan dengan mengesampingkan fleksibilitas, keterbukaan dan efisiensi.

g.      Kepribadian menghindar
Terdapat pola perasaan tidak nyaman serta keenganan untuk bergaul, rasa rendah diri
dan hipersensitif terhadap evaluasi negative

h.      Kepribadian dependen
Terdapat pola perilaku berupa kebutuhan yang berlebih agar dirinya dipelihara yang menyebabkan perilaku submisif, bergantung pada orang lain, serta ketakutan akan perpisahan. Dependen ditandai oleh kecocokan yang tinggi (Jurnal, Widger Dkk, 2002).

i.        Kepribadian obsesif kompulsif
Ditandai oleh penyempitan emosional, ketertiban, kekerasan hati, sikap keras kepala dan kebimbangan. Gambaran penting adalah pola perfeksionisme dan infleksibilitas yang pervasive. Obsesiv-kompulsif juga ditandai dengan kesadaran diri yang tinggi dalam perilakunnya. (Jurnal, Widger Dkk, 2002)
j.        Kepribadian narsistik
Ditandai oleh meningkatnya rasa kepentingan diri dan perasaan kebesaran yang unik. Narsistik dengan kecocokan yang rendah. (Jurnal, Widger Dkk, 2002.


B.     KRITERIA DSM
a.       Kepribadian paranoid
·         Kecurigaan yang bersifat pervasive bahwa dirinya sedang dicelakain, dikhianati, di eksploitasi.
·         Keraguan teman-teman atau para rekanan dan mereka dapat di percaya.
·         Enggan mempercayai orang lain karena criteria diatas.
·         Memberikan makna sendiri terhadap berbagai tindakan orang lain yang tidak mengandung maksud apapun.
·         Mendendam atas berbagai hal yang di anggapnya sebagai kesalahan.
·         Reaksi  berupa kemarahan terhadap apa yang di anggapnya sebagai serangan terhadap karakter atau reputasi.
·         Kecurigaan yang tidak berdasar terhadap kesetiaan pasangan hidupnya atau pasangan seksual lain.
b.      Kepribadian skozoid
·         Kurang berminat atau kurang menyukai hubungan dekat.
·         Hampir secara eksklusif lebih menyukai kesendirian.
·         Kurangan untuk berhubungan sex.
·         Hanya sedikit, jika ada mengalami kesenangan.
·         Kurang memiliki teman.
·         Bersikap masa bodoh terhadap pujian atau kritik orang lain.
·         Afek datar, ketidaklekatan emosianal.
c.       Kepribadian antisocial
·         Beulang kali melanggar hokum .
·         Menipu, berbohong.
Hadits : “ maker, tipu muslihat dan pengkhianatan menyeret pelakunya ke neraka”(HR. Abu Daud)
Hadits : “ kecelaka bagi orang yang bercerita pada satu kaum tentang kisah bohong dengan maksud agar mereka tertawa. Celakalah dia..celaka dia” ( H.R Abu Daud dan Ahmad)
·         Impulsivitas.
·         Mudah tersinggung dan agresif.
·         Tidak memperdulikan keselamatan diri sendiri dan orang lain.
·         Tidak bertangguang jawab seperti terliahat dalam  riwayat  pekerjaan yang tidak reliable atau tidak memenuhi tangguangjawab keuangan.
·         Kurang memiliki rasa penyesalan .
·         Berusia minimal 18 tahiun.
·         Terdapat bukti mengenai gangguan tingkah  laku sebelum berusia 15 tahun.
·         Perilaku antisocial yang tidak terjadi secara eksklusif dalam episode skizoprenia atau mania.
d.      Kepribadian ambang
·         Berupaya keras untuk mencegah agar tidak diabaikan, terlepas dari benar-benar diabaikan atau  hanya dalam bayangaannya.
·         Ketidakstabilan dan intensitas ekstrim dalam hubungan interpersonal, di tandai dengan perpecahaan, yaitu  mengidealkan  orang lain dalam 1 waktu dan beberapa waktu kemudian menistakannya .
·         Rasa diri (sense of self) yang tidak stabil.
·         Prilaku impulsif  termasuk sangat boros dan  perilaku seksual yang tidak pantas.
·         Perilaku bunuh diri dan mutilasi yang berulang.
·         Kelabilan emosional yang ekstrim.
·         Perasaan kosong yang kronis.
·         Sangat sulit mengendalikan  kemarahan.
·         Pikiran paranoid dan simtom-simtom disosiatif yang dipicu oleh stress.
e.       Kepribadian histrionik
·         Kebutuhan besar untuk menjadi pusat perhatian.
·         Perilaku tidak senono secara seksual yang tidak pantas.
·         Perubahan ekspresi emosi secara cepat.
·         Memanfaatkan penampilan fisik untuk menarik perhatian orang lain pada dirinya.
·         Bicaranya sangat tidak tepat, penuh semangat mempertahankan pendapat yang kurang  memiliki detail.
·         Berlebihan, ekspresi emosional yang  teatrikal.
·         Sangat mudah disugesti.
·         Menyalh artikan hungan sebagai lebih intim dari yang sebenarnya.
f.       Kepribadian anakastik
·         Perasaan ragu dan hati-hati yang berlebihan.
·         Keterpakuan pada rincian, peratutran daftar perintah, organisasi atau jadwal.
·         Perfeksionisme tang menghambat penyelesaian tugas.
·         Ketelitian yang berlebihan terlalu hati-hati dan kecendrungan  semestinya kesenangan dan hubungan interpersonal.
·         Keterpakuan dan keterikatan yang berlebihan kesenanngan dan hubungan  interpersonal.
·         Kaku dank eras kepala.
·         Pemaksaan secara tidak masuk akal agar orang lain melakukan sesuatu menurut caranta atau keengganan yang tidak  masuk akal untuk mengizinkan orang lain melakukan sesuatu.
·         Mencampuradukan  pikiran atau dorongan  yang bersifat memaksa atau yang tidak disukai.
g.      Kepribadian menghindar
·         Mengihindari kontak interpersonal karena takut terhadap kritikan atau penolakan.a
·         Kengganan untuk menjalin hubungan dengan orang lain kecuali dirinya pasti akan disukai.
·         Membatasi diri dalam hubungan intim karena takut dipermalukan atau diperolok.
·         Penuh khawatiran akan dikritik atau ditolak.
·         Merasa tidak adekuat.
·         Merasa renda diri.
·         Keengganan ekstrim untuk mencoba hal-hal baru karena takut dipermalukan.
h.      Kepribadian dependen
·         Sulit mengambil keputusan tanpa saran dan dukungan berlebihan dari orang lain.
·         Membutuhkan orang lain untuk mengambil tangguanjawab atas bagian besar asfek kehidupan yang utama.
·         Sulit  tidak menyetujui orang lain karena takut kehilangan dukungan mereka.
·         Sulit melakuakn segala sesuatu sendiri karena kuranganya rasa percaya diri.
·         Melakuakan hal-hal yang tidak menyenangkan sebagai suatu cara untuk mendapatkan persetujuan dan dukungan orang lain.
·         Berupaya untuk sesegera mungkin menjalin hubunghuan baru bilahhubungan yang dimilikinya saat ini berakhir.
·         Dipenuhi ketakutan bila harus mengurus diri sendiri.
i.        Kepribadian obsesif kompulsif
·         Terfokus secara berlebihan pada aturan dan detail hingga point utama suatu aktivitas terabaikan.
·         Perfeksionisme ekstrim hingga ketingkat yang membuat berbagai peroyek jarang terselesaikan.
·         Pengabdian berlebihan pada pekerjaan hingga mengabaikan kesenangan dan persahabatan.
·         Tidak fleksibel tentang moral.
·         Sulit membuang benda-benda yang tidak berarti.
·         Enggan mendelegasikan kecuali jika orang lain dapat memenuhi standarnya.
·         Kikir.
·         Rigid dank eras kepala.
j.        Kepribadian narsistik
·         Pandangan yang dibesar-besarkan mengenai pentingnya diri sendiri, arogansi.
·         Terfokus pada keberhasilan, kecerdasan, dan kecantikan diri.
·         Kebutuhan ekstrim untuk dipuja.
·         Perasaan kuat bahwa mereka berhak mendapatkan segala sesuatu.
·         Kecendrungan memanfaatkan orang lain.
·         Iri pada orang lain.


C.    Etiologi(penyebab)
Kepribadian adalah hasil interaksi antara faktor konstitusi, pengalaman masa
perkembangan dan pengalaman selanjutnya dalam masa kehidupan.
Faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian:

1. Faktor genetik
Penelitian pada 15.000 pasangan kembar (monozigotik dan dizigotik) di Amerika Serikat membuktikan bahwa angka kejadian gangguan kepribadian pada kembar monozigot adalah beberapa kali lipat dibandingkan dengan kembar dizigot. Menurut penelitian tentang multiple kepribadian dan temperamen, minat okupasional dan waktu luang, dan sikap social, kembar monozigotik yang dibesarkan terpisah adalah kira-kira sama dengan kembar monozigotik yang dibesarkan bersama-sama. Penelitian juga menemukan faktor genetik pada anak dari orang tua dengan gangguan kepribadian antisongan yang cial yang sejak bayi dibesarkan dalam lingkungan orangtua yang tidak menderita gangguan kepribadian antisocial dan penyalahgunaan alcohol.
Gangguan kepribadian kelompok A (paranoid, schizoid dan skizotipal) adalah lebih sering ditemukan pada sanak saudara biologis dari pasien skizofrenik dibandingkan kelompok control. Gangguan kepribadian kelompok B (antisocial, ambang, histrionic dan narsistik) memiliki suatu dasar genetika. Gangguan kepribadian kelompok C (menghindar, dependen, obsesif-kompulsif dan tidak ditentukan) mungkin juga memiliki dasar genetika.
2. Faktor biologi
Hormon. Orang yang menunjukkan impulsive sering kali juga menunjukkan                       peningkatan kadar testosterone, 17-estradiol dan estrone. Kadar MAO trombosit yang rendah juga telah ditemukan pada beberapa pasien skizotipal. Gerakan mata mengejar yang halus (smooth pursuit eye movement) adalah abnormal pada orang dengan sifat introversi, harga diri rendah dan menarik diri dan pada pasien dengan gangguan kepribadian skizotipal. Gerakan mata pada orang tersebut adalah sakadik (yaitu, menyentak).
Neurotransmiter. Endorfin memiliki efek yang serupa dengan morfin eksogen, termasuk analgesic dan supresi rangsangan. Kadar endorphin endogen yang tinggi mungkin berhubungan dengan orang yang flegmatik-pasif. Penelitian sifat kepribadian dan system dopaminergik dan serotogenik menyatakan suatu fungsi mengaktivasi kesadaran dari neurotransmitter tersebut. Kadar 5- hydroxy-indoleacetic acid (5-HIAA), suatu metabolit serotonin, adalah rendah pada orang yang berusaha bunuh diri dan pada pasien yang impulsive dan agresif. Meningkatkan kadar serotonin dengan obat serotonergik tertentu seperti fluoxetine (Prozac) dapat menghasilkan perubahan dramatic pada beberapa karakteristik kepribadian. Serotonin menurunkan depresi, impulsivitas dan perenungan pada banyak orang dan dapat menghasilkan perasaan kesehatan umum. Meningkatnya kadar dopamine di dalam SSP, dihasilkan oleh psikostimulan tertentu (sebagai contoh, amfetamin) dapat menginduksi euphoria. Efek neurotransmitter pada sifat kepribadian telah menciptakan minat dan kontroversi tentang apakah sifat kepribadian dibawa sejak lahir atau didapat.
 Elektrofisiologi. Perubahan konduktansi elektrik pada elektroensefalogram (EEG) telah ditemukan pada beberapa pasien dengan gangguan kepribadian, paling sering pada tipe antisocial dan ambang, dimana ditemukan aktivitas gelombang lambat.

3. Faktor temperamen
Faktor ini berkaitan dengan faktor genetik dan biologic serta merupakan sesuatu yang bersifat konstitusional sejak lahir. Contoh, anak-anak yang secara temperamental ketakutan mungkin mengalami gangguan kepribadian menghindar. Gangguan kepribadian tertentu mungkin berasal dari kesesuaian parental yang buruk, yaitu ketidaksesuaian antara temperamen dan cara membesarkan anak. Sebagai contoh, seorang anak yang pencemas dibesarkan oleh ibu yang sama pencemasnya adalah lebih rentan mengalami gangguan kepribadian dibandingkan anak yang sama yang dibesarkan oleh ibu yang tenang.
4. Interaksi antara faktor temperamen dengan faktor lingkungan
Berdasarkan hasil observasi jangka panjang sejak bayi, Stella Chess dan Alexander Thomas mengemukakan teori Goodness of fit yaitu beberapa jenis gangguan kepribadian adalah hasil interaksi dari ketidakcocokan antara temperamen seorang anak dengan cara mendidik anak.

5. Faktor lingkungan dan budaya
Lingkungan dan budaya yang bersifat keras, tidak toleran, punitive dan agresif
sering menanamkan dasar-dasar paranoid dan antisocial.

6. Faktor psikodinamik
Yang dimaksud adalah faktor psikologis yang mengorganisasi, berkonsolidasi, bersifat kukuh dan secara maladaptive mengadakan, menyesuaikan dan menyelesaikan konflik dalam pengalaman hidup.

D.    PREVALENSI  (ANGKA KEJADIAN)
·         gangguan kepribadian paranoid
Prevalensi gangguan kepribadian paranoid adalah 0,5 sampai 2,5 persen. Gangguan adalah lebih sering pada laki-laki dibandingkan wanita, dan gangguan tampaknya tidak memiliki pola familial. Insidensi di antara homoseksual tidak lebih tinggi daripada umumnya, seperti yang dulu diperkirakan, tetapi dipercaya lebih tinggi pada kelompok minoritas, imigran dan tunarungu dibandingkan populasi umum.

·         Gangguan Kepribadian Skizoid
Prevalensi gangguan kepribadian Skizoid Gangguan mungkin mengenai 7,5 persen poplasi umum. Dan berdasar laporan rasio antara laki-laki terhadap wanita adalah 2 berbanding 1.

·         Gangguan kepribadian antisocial
Prevalensi gangguan kepribadian antisocial adalah 3 persen pada laki-laki dan 1 persen pada wanita. Paling sering ditemukan pada daerah perkotaan yang miskin dan di antara penduduk yang berpindah-pindah dalam daerah tersebut. Onset gangguan adalah sebelum usia 15 tahun. Anak perempuan biasanya memiliki gejala sebelum pubertas, dan anak laki-laki bahkan lebih awal. Prevalensi dalam populasi penjara mungkin setinggi 75 persen.

·         Gangguan kepribadian ambang
Diperkirakan ada pada kira-kira 1-2 persen populasi dan dua kali lebih sering pada wanita dibandingkan laki-laki. Suatu peningkatan prevalensi gangguan depresif berat, gangguan penggunaan alcohol dan penyalahgunaan zat adalah ditemukan pada sanak saudara derajat pertama orang dengan gangguan kepribadian ambang.

·         Gangguan kepribadian histrionic
Prevalensi gangguan sekitar 2-3 persen. Angka 10-15 persen telah dilaporkan pada lingkungan kesehatan mental rawat inap dan rawat jalan jika pemeriksaan terstruktur digunakan. Lebih sering didiagnosis pada wanita daripada laki-laki.

·         Gangguan kepribadian anankastik
Prevalensi adalah 1-10%

·         Ganggaun kepribadian menghindar
Prevalensi gangguan kepribadian menghindar adalah sekitar 5 %.

·         Gangguan kepribadian dependan
Lebih sering pada wanita daripada laki-laki. 2,5% dari semua gangguan kepribadian
masuk ke dalam kategori ini. Lebih sering terjadi pada anak-anak daripada dewasa

·         Gangguan kepribadian obsesiv-kompulsif
Lebih sering pada laki-laki dibandingkan wanita dan didiagnosis lebih sering pada anak tertua

·         Gangguan kepribadian narsistik
Gangguan ini antara 2-16% dalam populasi klinis dan kurang dari 1% dalam populasi umum. Jumlah kasus yang dilaporkan terus meningkat secara mantap.


E.     INTERVENTASI(PENANGANAN/TERAPI)
·         Gangguan kepribadian paranoid
1.      Psikoterapi
Merupakan pengobatan terpilih. Tetapi ahli terapi harus mengingat bahwa kejujuran dan toleransi keintiman adalah bidang yang sulit bagi penderita gangguan. Psikoterapi individual memerlukan gaya professional yang tidak terlalu hangat. Pasien paranoid tidak bekerja dengan baik dalam psikoterapi kelompok. Klinisi yang terlalu banyak menggunakan interpretasi – khususnya interpretasi mengenai perasaan ketergantungan yang dalam, masalah seksual dan keinginan keintiman – secara jelas meningkatkan ketidakpercayaan pasien. Tuduhan delusional harus dihadapi dengan cara yang realistic tetapi jelas tanpa menghina pasien. Penderita akan dilanda ketakutan apabila sang penolong adalah lemah dan tidak berdaya; dengan demikian, ahli terapi tidak boleh mengancam mengambil kendali kecuali mereka berdua mampu dan mau melakukannnya.

2.      Farmakoterapi
Berguna dalam menghadapi agitasi dan kecemasan. Obat yang digunakan diantaranya: obat antiansietas (diazepam), antipsikotik (thiorizadine atau haloperidol).



·         Gangguan kepribadian schizoid
1. Psikoterapi
Terapinya hamper sama dengan pasien ganggaun paranoid. Tetapi pada pasien schizoid kecenderunga ke arah introspeksi adalah konsisten dengan harapan ahli terapi, dan mungkin dapat menjadi pasien yang tekun, jika jauh. Saat kepercayaan berkembang, kemungkinan terjadinya fantasi-fantasi seperti teman khayalan atau ketakutan ketergantungan. Sedang dalam terapi kelompok, awalnya pasien akan diam saja, tetapi lama-kelamaan pasien akan mulai bias berinteraksi. Dan dengan berjalannya waktu kegiatan kelompok ini dapat memberikan kontak social satu- satunya kepada pasien.

2. Farmakoterapi
Antipsikotik dosis kecil, antidepresan dan psikostimulan

·         Gangguan kepribadian antisosial
1. Psikoterapi
Jika penderita ini dipenjara, seringkali mereka menjadi mampu untuk menjalani psikoterapi. Dan jika pasien berada di antara teman-teman sebayanya, motivasi mereka untuk berubah menghilang. Kemungkinan karena hal inilah selfhelp group lebih berguna disbanding penjara.

2. Farmakoterapi
Hanya digunakan untuk menghadapi masalah yang dikhawatirkan timbul, seperti kecemasan, penyerangan, depresi. Jika muncul gangguan hiperaktivitas pasien diberi psikostimulan seperti methylphenidate (Ritalin).


·         Gangguan kepribadian ambang
1. Psikoterapi
Pendekatan berorientasi realitas adalah lebih efektif dibandingkan interpretasi bawah sadar secara mendalam. Terapi perilaku digunakan untuk mengendalikan ledakan kemarahan dan untuk menurunkan kepekaan terhadap kritik dan penolakan. Latihan keterampilan social, khususnya dengan videotape, dapat membantu pasien untuk melihat bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang lain.

2.      Farmakoterapi
Antipsikotik digunakan untuk mengendalikan kemarahan, permusuhan dan episode psikotik singkat. Antidepresan memperbaiki mood yang terdepresi. MAOI efektif dalam memodulasi perilaku impulsive. Benzodiazepine (alprazolam) membantu kecemasan dan depresi. Antikonvulsan (carbamazepine) dapat meningkatakn fungsi global. Obat serotonergik (fluoxetine) juga dapat membantu dalam beberapa kasus.

·         Gangguan kepribadian histrionic
1. Psikoterapi
Psikoterapi berorientasi psokoanalisis, apakah dalam kelompok atau individual, kemungkinan merupakan terapi yang terpilih untuk gangguan kepribadian histrionic.

2. Farmakoterapi
Antidepresan, antiansietas dan antipsikotik.

·         Gangguan kepribadian anankastik

·         Gangguan kepribadian  menghindar
1. Psikoterapi
Terapi psikoterapeutik tergantung pada kepadatan suatu ikatan dengan pasien. Terapi kelompok dapat membantu pasien mengerti efek kepekaan mereka terhadap penolakan pada diri sendiri dan orang lain. Latihan ketegasan adalah bentuk terapi perilaku yang dapat mengajarkan pasien untu mengekspresikan kebutuhan mereka secara terbuka dan untuk meningkatkan harga diri mereka.


2. Farmakoterapi
Penghambat beta seperti atenolol (Tenormin), untuk mengatasi hiperaktivitas system saraf otonomik, khususnya jika mereka menghadapi situasi yang menakutkan.

·         Gangguan kepribadian  dependen
1. Psikoterapi
Terapi berorientasi tilikan memungkinkan pasien mengerti datangnya perilaku mereka dan dengan dukungan ahli terapi pasien dapat menjadi mandiri dan percaya diri. Kesukaran dalam terapi didapat bila ahli terapi memaksakan pasien untuk mengubah dinamika hubungan patologis (contoh, mendorong istri untuk mendapatkan penyiksaan fisik untuk meminta bantuan polisi). Terapi perilaku, latihan ketegasan, terapi keluarga dan terapi kelompok semuanya telah digunakan dengan keberhasilan dalam banyak kasus.

2. Farmakoterapi
Pasien dengan serangan panic mungkin tertolong oleh imipramine (Tofranil).
Benzodiazepine dan serotonergik dapat digunakan pada depresi.

·         Gangguan kepribadian  obsesiv-kompulsif
1. Psikoterapi
Asosiasi bebas dan terapi yang tidak mengarahkan adalah sangat dihargai oleh pasien gangguan kepribadian obsesi-kompulsif yang bersosialisasi atau berlatih berlebihan (oversocialized, overtrained).

2. Farmakoterapi
Clonazepam (klonopin) dapat menurunkan gejala pada pasien dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif yang parah.




·         Gangguan kepribadian narsistik
1. Psikoterapi
Otto Kernberg dan Heinz Kohut menganjurkan pemakaian pendekatan
psikoanalitik untuk mendapatkan perubahan.

2. Farmakoterapi
Lithium (Eskalith) digunakan pada pasien yang memiliki gangguan mood

F.     CONTOH KASUS
a.       Kasus Gangguan Kepribadian
Mary berusia 26 tahun ketika dirawat untuk pertama kalinya dirumah sakit psikiatri. Ia telah menjalani penanganan rawat jalan dengan seorang psikolog selama beberapa bulan hingga pikirannya untuk membunuh diri yang tterus-menerus muncul dan posisinya untuk menyakiti diri sendiri ( dengan mengiris atau membakar) membuat trapisnya memutuskan bahwa ia tidak bisa lagi ditanganai secata rawat jalan. Pengalaman meri dengan trapi psikologi terjadi ketia ia masi remaja. Nilai-nilainya turun drastic ketika ia duduk di kelas II, dan orang tuannya curiga bahwa ia menggunakan obata-obatan. Ia mulai melanggar jam pulang malam dan beberapa kali tidak pulang rumah. Ia berulang kali bolos. Keluarga tersebut kemudian menjalani trapi keluarga, yang pada awalnya tampak berjalan baik. Mery antusias dengan trapisnya dan meminta untuk mendapatkan sesi-sesi tambahan secara pribadi.

Ketakutan kedua orang tuanya terbukti ketika dalam sesi-sesi keluarga mery menceritakan riwayat panjang mengguanakan obat-obatan, termasuk “ apapun yang dapat dipegang oleh tangan saya.”  Ia telah kehilangkan moralitasnya dan beberapa kali melacurkan diri untuk memeperoleh uang guna untuk membeli obat-obatan. Salah satu masalahnya yang paling kecil adalah hubungan dengan teman-teman sebayanya tidak stabil. Polanya adalah datangnya sekumpulan teman baru, yang pada awalnya dianggap sebagai teman terbaik yang pernah dimilikinya, namun tidak lama kemudian karena satu alas an atau lain hal mereka mengecewakan mery sehingga mery menyingkirkan mereka, sering kali dengan cara yang tidak menyenangkan. Kecuali satu malan yang saat ini menjadi kekasihnya, mery tidak mempunyai teman lain. Ia menuturkan bahwa ia menjahui teman-temannya karena takut mereka akan menyakiti dengan satu atau lain cara.
Setelah terapi berjalan beberapa minggu orang tua mery mengamati bahwa hungannya dengan terapis menjadi dingin. Sesi-sesi selanjutnya  ditandai dengan ledakan kemarahan dan kekerasan mery terhadap sang terapis. Setelah beberapa minggu belalu, mery tidak bersedia lagi megikuti sesi-sesi terapi. Dalam pembicaraan terpisah dengan terapis, ayah mery baru mengetahui bahwa mery telah merayu kepada terapisnya dalam sesi-sesi pribadi dan perubahan sikapnya terjadi ketika sang terapis menolak godaannya, terupas dari upaya terapis untuk menggabungkan antara ketegasan dengan keramahan dan empati.
Mery berhasil lulus smu dan kuliah disebuah akademik masyarakat lokal, namun pola lama terulang kembali. Nilai-nilai yang rendah , membolos kuliah, tetap menggunakan obat , dan kuranganya minat terhadap kuliahnya membuat ia berhenti kuliah di pertengahan semester pertama pada tahun keduA. setelah berhentah mery mengerjakan tugas-tugas klerikal di beberapa tempat. Sebagian besar pekerjaannya tidak bertahan lama karena hubungannya dengan rekan-rekan kerjanya sama dengan pola hubungan dengan teman-teman sebayannya semasa SMU. Ketika mery mulai bekerja di tempat yang baru ia berkenalan dengan seseorang yang disukainya, namun terjadi sesuatu di antara mereka dan hubungan tersebut berakhir dengan kemarahan. Ia sering mencurigai rekan-rekan kerjannya dan menuturkan bahwa ia sering mendengar mereka membicarakannya, berkomplot untuk mencegahnya memperoleh kemajuan dalam pekerjaannya ia sangat cepat menemukan maksud tersembunyi dalam perilaku mereka seperti ketika ia menjadi orang terakhir yang diminta menandatangani sebuah kartu ulang tahun, ia menginterpretasikannya sebagai tanda bahwa ia adalah orang yang tidak disukai di kantor. Menurutnya ia “ menerima getaran.” Dari orang lain dan dapat mengatakan bilah mereka benar-benar tidak menyukainya meskipun tidak ada bikti-bukti langsung tentang hal itu.







b.      Lintas budaya papua
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOiijXMKydVausV5oxMTNXMMSBAFA6-oTj9bBvyWdbGZklT6vASRVV1m8O_BNFCfIp1j2EPvTCKrx1-Sw6shpJmF0H0OVyhkP90GypoY44NI5VhHFbnhkcBtJkQtORrkyJKXcNZ4nf-d5g/s320/papuadani7.jpg












ika salah satu bagian dari keluarga kita ada yang meninggal dunia, paling paling kita hanya menangis 7 hari 7 malem saja paling lama. Atau teriak teriak kayak orang kesetanan. Tapi lain halnya dengan masyarakat pengunungan tengah Papua (Wamena).

  Apakah ungkapan kesedihanyang dipertunjukkan oleh seseorang yang kehilangan anggota keluarganya.Menangis, barang kali ituyang paling sering kita jumpai.Bagi umumnya masyarakat pengunungan tengah dan khususnya masyarakat Wamena ungkapan kesedihan akibat kehilangan salah satu anggota keluarga tidak hanya dengan menangis saja.Biasanyamereka akan melumuri dirinya dengan lumpur untuk jangka waktu tertentu.Namun yang membuat budaya mereka berbeda dengan budaya kebanyakan suku di daerah lain adalah memotong jari mereka.Hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh para Yakuza (kelompok orangasasigaris keras terkenal di Jepang) jika mereka telah melanggar aturan yang
telah ditetapkan oleh organisasi atau gagal dalam menjalankan misi mereka. Sebagai ungkapan penyesalannya, mereka wajib memotong salah satujari mereka. Bagi masyarakat pengunungan tengah, pemotongan jari dilakukan apabila anggota keluarga terdekat seperti suami, istri, ayah, ibu, anak, kakak, atau adik meninggal dunia.pemotongan jari ini melambang kepedihan dan sakitnya ditinggalkan orang yang sangat dicintai,Ungkapan yang begitu mendalam, bahkan harus kehilangan anggota tubuh. Bagi masyarakat pegunungan tengah, keluarga memiliki peranan yang sangat penting.Bagi masyarakat Balim Jayawijaya kebersamaan dalam sebuah keluarga memiliki nilai-nilai tersendiri.pemotongan jari itu umumnya dilakukan oleh kaum ibu. Namun tidak menutup kemungkinan pemotongan jaridilakukan oleh anggota keluarga dari pihak orang tua laki-laki atau punperempuan.Pemotongan jari tersebut dapat pula diartikan sebagai upaya untuk mencegah ‘terulang kembali’ malapetaka yang telah merenggut nyawaseseorang di dalam keluarga yang berduka.Seperti kisah seorang ibuasal Moni (sebuah suku di daerah Paniai), diabercerita bahwa jari kelingkingnya digigit oleh ibunya ketika ia baru dilahirkan. Hal itu terpaksa dilakukan oleh sang ibu karena beberapa orang anak yang dilahirkan sebelumnya selalu meninggal dunia. Dengan memutuskan jari kelingking kanan anak baru saja ia lahirkan, sang ibu berharap agar kejadian yang menimpa anak-anak sebelumnya tidak terjadi pada sang bayi. Hal ini terdengar sangat eksrim, namun kenyataannya memang demikian, wanita asal Moni ini telah memberikan banyak cucu dan cicit kepada sang ibu.Pemotongan jari dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang memotong jari dengan menggunakan alat tajam seperti pisau, parang, atau kapak. Cara lainnya adalah dengan mengikat jari dengan seutas tali beberapa waktu lamanya sehingga jaringan yang terikat menjadi mati kemudian dipotong.Namun kini budaya ‘potong jari’ sudah ditinggalkan. sekarang jarang ditemui orang yang melakukannya beberapa dekade belakangan ini. Yang masih dapat kita jumpai saat ini adalah mereka yang pernah melakukannya tempo dulu. Hal ini disebabkan oleh karena pengaruh agama yang telah masuk hingga ke plosok daerah di papau.
Dalam budaya pemotongan jari yang dilakukan masyarakat pedalaman papua bagi masyarakat papua hal ini dianggap perilaku normal, tetapi jika kebudayaan pemotongan jari ini dipandang oleh masyarakat didaerah lain maka kebudayaan ini dianggap perilaku abnormal atau gangguan kepribadian.














BAB III

PENUTUP


A.    KESIMPULAN

     Dalam mengkaji masalah gangguan kepribadian banyak hal yang dapat kita bahas secara lebih spesifik, banyak factor yang mempengaruhi gangguan kepribadian yang telah kita bahas dalam Bab I-Bab Ii. dimana telah dijelaskan satu-persatu mengenai gejala-gejala yang dialami seseorang yang mengalami gangguan kepribadian dan tingkah laku yang ditimbulkan pada individu yang mengalami gangguan kepribadian cendrung negative.
Dari materi yang telah dijelaskan dalam Bab I-Bab Ii jelas seseorang yang mengalami gangguan akan bersikap tidak seperti orang normal pada umunnya . hal ini terbukti dari definisi gangguan tersbut : hal yang menyebabkan ketidakwarasan atau ketidaknormalan (tentang jiwa, kesehatan dan pikiran). Definisi gangguan secara umum ini telah membuktikan bahawa individu akan mengalami ketidakwarasan dalam tingkah lakunnya. Dalam gangguan kepribadian ini juga banyak terdapat macam-macam gangguan yang dalam faktanya banyak terjadi dimasyarakat.gangguan kepribadian dapat menyerang siapa saja ketika manusia sedang dalam ketidakstabilan jiwa dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan rintanmgan ini.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar