Selasa, 22 November 2011



A.    Latar Belakang Masalah
Prabowo,( 1998) mengungkapkan stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan karena individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal. Dan penuturan ini ditambahkan pula oleh Goldberger dan Brenitz (dalam Lidwina, 2004), penyebab stres (stressor) dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari situasi eksternal yang dapat mempengaruhi individu. Jelas disini tidak hanya dari penuturan Lazarus saja tetapi dari Goldberger dan Brenitz juga yang menyatakan bahwa faktor eksternal merupakan salah satu penyebab terjadinya stres, dan faktor eksternal disini meliputi faktor lingkungan, yang berupa lingkungan masyarakat.
Tuntutan kerja sudah ada sejak pertama kali manusia bekerja, namun dampak dari dinamika dunia kerja yang semakin kompleks menimbulkan banyak tuntutan-tuntutan baru terhadap individu dalam melakukan pekerjaannya, sehingga sebagai konsekuensinya sangat besar kemungkinan untuk individu mengalami stres di lingkungan kerja (Soewondo, 1993). Fokus dalam penelitian ini adalah stres sebagai suatu pengalaman emosional yang bersifat negatif (distress), namun stres bias juga berupa pengalaman emosional positif (eustress), yang terjadi karena adanya suatu tekanan dari sumber stres tertentu (stressors). Menurut Lazarus dan Folkman (1984), stress terjadi ketika terjadi ketidakseimbangan antara tuntutan lingkungan dengan kemampuan seseorang.

Manusia saat ini banyak mengalami gejala stress dari berbagai sumber seperti : ekonomi, pendidikan, social, lingkungan keluarga, penerimaan diri hampir semua hal dalam hidup ini bisa  menjadi sumber stress yang di alami manusia. Banyak danfak negative dari stress tersebut seperti : bunuh diri, menurunnya nilai moral, menurunnya nilai-nilai akademik, dan lain-lain. hal ini lah menjadi PR bagi para psikolog untuk membantu menangi gejala stress hal ini sudah dibuktikan dengan terbitnya jurnal ini yang membahas mengenai Hubungan Antara Trait Kepribadian Neuroticism, Strategi Coping, Dan Stres Kerja” dalam jurna ini akan di bahas mengenai stress dan strategi coping, dan yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah kepribadian seseorang sangat mempengaruhi timbulnya gejal stress?





B.     Dasar Teori
Pada tingkat individu, penelitian telah menunjukkan bahwa stres kerja pada karyawan mempunyai hubungan erat dengan depresi, ketidak-puasan kerja, burnout, dan kecelakaan kerja (Ganster & Schaubroeck, 1991). Penelitian terhadap dampak stres kerja pada pekerja di Indonesia menunjukkan bahwa dampak dari stres kerja, secara fi siologis, bisa hanya berupa gangguan tidur dan sakit kepala, hingga jantung koroner dan hipertensi (Kesehatan Jiwa Terkait Produktivitas - 28/02/2002, KOMPAS Cyber Media). Pada tingkat organisasi, Blix, Cruise, Mitchell & Blix (1994) melaporkan bahwa stres pada karyawan berhubungan erat dengan ketidakhadiran kerja yang tinggi, produktivitas kerja yang rendah serta ketidak mampuan untuk bekerja pada pekerja di Amerika. Hal ini juga terjadi pada pekerja di Indonesia dimana stress kerja juga menimbulkan absenteisme dan kecelakaan kerja yang cukup tinggi di kalangan karyawan (Kesehatan Jiwa Terkait Produktivitas - 28/02/2002, KOMPAS Cyber Media). Penurunan jam kerja akibat absenteisme, produktivitas rendah, penyakit dan kecelakaan kerja, berdampak langsung terhadap pemasukan organisasi ditambah lagi dengan pengeluaran dalam bentuk biaya pengobatan karyawan yang sakiatau cedera. Penelitian oleh Fletcher (1988) menunjukkan sekitar 100 juta hari kerja hilang di Inggris karena berbagai macam hal yang berkaitan dengan stres kerja. Selanjutnya, Atkinson (2000) menunjukkan bahwa kerugian yang dialami oleh organisasi di Amerika Serikat akibat dampak stres kerja diperkirakan sebesar 150 milyar dolar AS pertahun, sementara secara global, kerugian dari stres kerja adalah sekitar

C.    Manfaat Penelitian
Penelitian merupakan upaya manusia untuk mencari kebenaran atau berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada selama ini di dalam suatu bidang tertentu, jadi dapat di rincikan manfaat dari penelitian ini adalah:
1.      Sebagai bahan bacaan dan pengetahuan bagi para pembaca
2.      Dapat memahami penyebab terjadinya gejala stress
3.      Dapat mengetahui hubungan kepribadian dengan gejala stress
4.      Mengetahu strategi yang di lakukan dalam menghadapi stres

Sabtu, 12 November 2011



A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Prabowo,( 1998) mengungkapkan stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan karena individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal. Dan penuturan ini ditambahkan pula oleh Goldberger dan Brenitz (dalam Lidwina, 2004), penyebab stres (stressor) dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari situasi eksternal yang dapat mempengaruhi individu. Jelas disini tidak hanya dari penuturan Lazarus saja tetapi dari Goldberger dan Brenitz juga yang menyatakan bahwa faktor eksternal merupakan salah satu penyebab terjadinya stres, dan faktor eksternal disini meliputi faktor lingkungan, yang berupa lingkungan masyarakat,
Stress adalah bawaan azali manusia apabila kita pandang dengan marah dan benci maka akan kelihatan semua keburukannya namun, jika kita pandang dengan rasa  sayang dan cinta maka akan tampak semua kebaikannya. stres adalah utusan tuhan untuk mendidik hambah-Nya agar mau tunduk kepada-Nya stress adalah utusan tuhan agar manusia menjadi manusia.
Membahas tentang stress sama sulitnya dengan membahas manusia, karena menurut kierkegard stress adalah ciri-ciri kemanusiaan itu sendiri. Dalam batas-batas tertentu stress memang dapat menggagu integritas kemanusiaan kita. Akan tetapi, dalam batas tertentu pula stress dapat “ membantu” kita mencapai hakikat kemanusiaan. Dalam bahasanya martin Heidegger, stress adalah akses istimewa pada pengetahuan diri. Booker T.Washington mengajarkan kepada kita, “ kerumitan membuahkan sifat-sifat terbaik dalam diri seseorang dan memungkinkannya menjadi unggul”.  Memahami stress seperti memahami apa itu dingin, panas, manis, pahit, asin, atau asam. Kita semua mengerti ke enam rasa tersebut. Akan tetapi, kita tidak akan pernah bisa membuat sebuah rangkaian kata yang bisa menjelaskan semua rasa itu. Rasa –rasa itu hanya bisa dipahami dengan merasakan rasa itu bukan dengan serentetan definisi, sebaik apapun definisi tersebut.


  1. TINJAUAN PUSTAKA

  1. Pengertian stres
Definisi stres secara terminology berasal dari bahasa latin “strictus” yang berarti ketat atau sempit. Dan menjadi kata kerja “stringere” yang berarti mengetatkan. Sedangkan menurut kamus psikologi, stres dapat di artikan sebagai suatu keadaan yang tertekan, baik secara fisik maupun psikologis.(chaplin, 2001:488).
Stres adalah respons tubuh yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya (hans selye, 1950). Stres juga merupakan suatu kondisi dinamik yang didalamnya seorang individu dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala, atau tuntutan yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkannya dan yang hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti atau penting (RS Sculer: 1980).
Selain definisi konseptual di atas, berikut ini terdapat juga beberapa definisi stres menurut para ahli yakni sebagai berikut:
  1. Menurut dadang hawari (1997:44-45) istilah stres tidak dapat dipisahkan dari stres akademik dan defresi, karena satu sama lain saling berkaitan.
  2. Menurut Baum (taylor, 2003) mengartikan stres sebagai “ pengalaman emosional yang negative yang disertai perubahan-perubahan biokimia, fisik, kognitif, dan tingkah laku yang di arahkan untuk mengubah peristiwa stres tersebut untuk mengakomodasi dampak-dampaknya.
  3. Menurut Santrock (2003) stres merupakan respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stres (stresor), yang mengancap dan mengganggu kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping).

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa stres adalah “perasaan tidak enak, tidak nyaman, atau tertekan baik fisik maupun psikis sebagai respon atau reaksi individu terhadap stressor ( stimulus yang berupa peristiwa, objek, atau orang) yang mengancam, mengganggu, membebani, atau membahayakan keselamatan, kepentingan, keinginan, atau kesejahteraan hidup seseorang.

  1. Pengertian strategi coping

Coping yaitu sebagai penyesuaian secara kognitif dan perilaku menuju keadaan yang lebih baik, mengurangi dan bertoleransi dengan tuntutan-tuntutan yang ada yang mengakibatkan stres, Radley (1994).

Pembahasan I

  1. Gejala stres
Menurut Rice (1998), secara umum gej ala- gej ala stres dapat dibedakan ke dalam empat macam jenis, yaitu gej ala- gej ala berupa perilaku, emosi, kognitif dan fisik :
·         Gej ala- gej ala perilaku (Behavioral symptoms)
Dari banyaknya gej ala- gej ala perilaku yang timbul, beberapa diantaranya adalah prokrastinasi dan avoidance, menarik diri dari teman dan keluarga, hilangnya nafsu makan dan tenaga, ledakan emosi dan agresi, berubahnya pola tidur (tidur tidak nyenyak).
·         Gejala- gejala Emosi (Emotive symptoms)
Gej ala- gej ala emosi yang paling umum adalah cemas, takut, mudah marah, dan depresi. Gej ala lainnya, ketakutan, frustasi, merasa bingung dan kehilangan kendali.
·         Gej ala- gej ala kognitif (Cognitive symptoms)
Gej ala- gej ala kognitif yang paling umum adalah hilangnya motivasi dan konsentrasi. Individu seakan-akan kehilangan kemampuan untuk memfokuskan perhatian pada tugas- tugas yang harus dikerjakan dan kehilangan kemampuan untuk menjalankan tugas-tugas tersebut dengan baik. Gej ala- gej ala mental dan kognitif lainnya adalah kekhawatiran yang berlebihan. Salah satu gej ala final dari gej ala kognitif ini adalah keinginan untuk melarikan diri dari situasi dimana dia berada.
·         Gejala- gejala fisik (Physical symptoms)
Gej ala- gej ala fisik yang paling umum adalah pegal- pegal dan lemas, migraine dan sakit kepala, sakit punggung termasuk sakit punggung bagian bawah, dan ketegangan otot yang dapat dilihat dalam bentuk kejang urat. Pada system kardiovaskular, stres seringkali direflesikan dengan meningkatnya detak jantung, hipertensi, dan buruknya peredaran darah arteri. Pada system
pernafasan, seringkali diperlihatkan dengan tarikan nafas yang cepat dan pendek- pendek dan mengalami kelelahan yang luar biasa.

  1. Fakror yang mempengaruhi stres
Lahey dan Cimnero (dalam Jannah, 2006), beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi manusia terhadap stres yaitu:
·         Intensitas dan lamanya stres
Pada umumnya semakin kuat dan semakin seseorang mengalami keadaan yang membuat stress, maka makin serius reaksi stres yang akan di alami.
·         Kehadiran stressor lain
Suatu sumber stres tidak hanya menyebabkan seseorang mengalami stres, taetapi juga akan membuat individu mudah terpengaruh oleh stressor lain. Menurut Holmes dan rahe (dalam Jannah, 2006) ada hubungan yang erat antara sakit yang serius dan jumlah kejadian stress yang dialami individu dalam kehidupannya.
·         Pengalaman terdahulu
Reaksi stres umumnya akan lebih kuat pada waktu individu mempunyai pengalaman terdahulu terhadap kejadian stres tertentu dan bila ia tidak mendapatkan peringatan tentang stres tersebut (casel dalam Jannah, 2006) misalnya jika individu pernah gagal mendapatkan pekerjaan, saat ia melamar lagi ke perusahaan lain untuk bidang pekerjaan yang sama, kemungkinan ia akan mengalami stres lebih besar dibanding stres yang ia alami sebelumnya.
·         Karakteristik Individu
Beberapa karakteristik dan keadaan tertentu membuat individu mengalami stres yang berbeda intensitasnya. Jenis kelamin, suku bangsa dan usia memegang peranan penting (Becker dkk dalam Jannah, 2006)
·         Dukungan sosial
Beberapa studi (Miller dan igham dalam Jannah, 2006), menunjukan bahwa stres yang dialami berbanding terbalik dengan dukungan sosial yang diterima. Artinya stres yang dialami berbanding terbalik dengan dukungan sosial yang diterima, artinya stres yang dialami bias menurun intensitasnya jika individu menerima dukungan sosial dari lingkungannya. Dukungan sosial yang dapat menurunkan kemungkinan individu berhadapan dengan situasi yang menekan diwaktu-waktu berikutnya (Cooper dan Payne, dalam Jannah, 2006)

  1. Tiga tahapan dalam stres
Menurut Sarafino (1998), tiga tahapan dalam stres atau lebih dikenal dengan General Adaption Syndrome (GAS) yaitu:
·         Alarm Reaction
Merupakan respon terhadap kondisi stres yang muncul secara fisik. Terjadi perubahan pada tubuh atau biokimia seperti tidak enak badan, sakit kepala, otot tegang, kehilangan nafsu makan, merasa lelah. Secara psikologi, meningkatnya rasa cemas, sulit konsentrasi atau tidur tidak nyenyak, bingung atau kacau. Mekanisme seperti rasionalisasi atau penyangkalan sering dilakukan.

·         Resistance
Kondisi dimana tubuh berhasil melakukan adaptasi terhadap stres. Gej ala menghilang, tubuh dapat bertahan dan kembali pada kondisi normal.
·         Exhaustion
Kondisi yang muncul jika stres berkelanjutan sehingga individu menjadi rapuh/ kehabisan tenaga. Secara fisik, tubuh menjadi breakdown, energi untuk beradaptasi habis, reaksi atau gej ala fisik muncul kembali, yang akhirnya dapat mengakibatkan individu meninggal. Secara fisiologis, musngkin terjadi halusinasi, delusi, perilaku apatis bahkan psikosis.

Pembahasan II

  1.  Faktor yang Mempengaruhi Strategi Coping
Menurut Mu`tadin (2002), cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan oleh sumber daya individu yang meliputi kesehatan fisik/energi, keterampilan memecahkan masalah, keterampilan sosial dan dukungan sosial dan materi,
·         Kesehatan Fisik
Kesehatan merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar
·         Keyakinan atau pandangan positif
Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti keyakinan akan nasib (eksternal locus of control) yang mengerahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan(helplessness) yang akan menurunkan kemampuan strategi coping tipe : problem-solving focused coping
·         Keterampilan Memecahkan masalah
Keterampilan ini meliputi
kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat.
·         Keterampilan sosial
Keterampilan ini meliputi
kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dimasyarakat.
·         Dukungan sosial
Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya
·         Materi
Dukungan ini meliputi sumber daya berupa uang, barang barang atau layanan yang biasanya dapat dibeli.

  1.  Jenis Coping stres
Menurut Lazarus dan Folkman (1976), cara coping dibedakan menjadi dua bagian besar berdasarkan tujuan atau intensi individu, yaitu:

  1. Problem Focused Coping.
Coping yang memfokuskan pada masalah ini melibatkan usaha yang dilakukan untuk merubah beberapa hal yang menyebabkan stres (stressor). Tujuannya adalah untuk mengurangi tuntutan dari situasi dan meningkatkan usaha individu dalam menghadapi situasi tersebut. Cara ini lebih sesuai apabila digunakan dalam menghadapi masalah atau situasi yang dianggap dapat dikontrol atau dikuasai oleh individu.

Menurut Carver, Scheiver dan Weintraub (dalam Triyani Harika, 2000) Dalam penelitiannya telah menyebutkan beberapa strategi coping yang bisa dikelompokan kedalam kelompok problem focused coping, yaitu:
·         Active coping, merupakan proses mengambil langkah aktif untuk mencoba menghilangkan stressor atau untuk meringankan dampaknya.
·         Planning, memikirkan
bagaimana cara untuk mengatasi stressor. Termasuk didalamya adalah memikirkan suatu strategi untuk bertindak, langkah-langkah apa yang harus diambil dan bagaimana cara paling baik untuk mengatasi masalah.
  • Restraint coping, menunggu sampai adanya kesempatan yang tepat untuk bertindak sebelum waktunya. Coping ini dapat dilihat sebagai strategi
yang aktif dalam arti tingkah lakunya dilakukan untuk mengatasi stressor, namun juga dapat dilihat secara pasif karena dalam strategi ini individu tidak melakukan tindakan apapun.
  • Seeking social support for instrumental reasons,
mencari nasihat, bantuan atau informasi.
  • Suppressing of competing activites.
 Salah satu bentuk coping yang di fokuskan pada masalah adalah individu berusaha membatasi ruang gerak/aktifitas dirinya yang tidak berhubungan dengan masalah. Dalam hal ini individu mengurangi keterlibatannya dalam kegiatan lain yang juga membutuhkan perhatian untuk dapat berkonsentrasi penuh pada tantangan manapun ancaman yang dialaminya. Yang juga termasuk dalam jenis coping ini adalah perilaku mengabaikan masalah lain untuk menghadapi sumber stres.



  1. Emotion Focused Coping
Coping ini merupakan bentuk coping yang lebih memfokuskan pada masalah emosi. Bentuk coping ini lebih melibatkan pikiran dan tindakan yang ditunjukan untuk mengatasi perasaan yang menekan akibat dari situasi stres. Emotion focused coping, terdiri dari usaha yang diambil untuk mengatur dan mengurangi emosi stres penggunaan mekanisme yang dapat menghindarkan dirinya dari berhadapan dengan stressor.
Lazarus, Folkman, dan rekannya (dalam Sarafino, 1998) telah menyebutkan beberapa strategi coping yang bisa dikelompokkan kedalam kelompok emotion focused coping, yaitu:
  • Distancing.
Individu mencoba membuat suatu pola pemikiran (berpikir) yang lebih positif terhadap masalah yang dihadapinya. Individu bisa mencoba bertingkah laku seakan-akan tidak pernah terjadi apapun. Individu mencoba untuk tidak terlalu terpengaruh dengan cara tidak terlalu memikirkan masalahnya. Carver, Scheier dan Weintraub (dalam Sarafino, 1998) menyebut bicara coping sebagai suatu usaha individu untuk menyangkal (denial) bahwa dirinya dihadapkan pada suatu masalah.
  • Escape- avoidance.
 Individu menghindari untuk menghadapi masalah yang dihadapinya. Contohnya, individu berkhayal bahwa akan ada suatu keajaiban yang bisa membuat masalahnya selesai. Biasanya individu mengambil tindakan pengalihan perhatian yang negatif (menghindar) terhadap masalahnya dengan tidur terus menerus, keluar rumah, lebih sering menonton televisi, merokok atau minum-minuman beralkohol.
  • Self control.
Individu mencoba untuk mengatur emosinya supaya tidak diketahui oleh orang lain dan mengatur tindakannya dalam menghadapi masalahnya.
  • Accepting responsibility.
 Individu menyadari perannya sebagai salah satu penyebab dari masalah yang dihadapinya dan mencoba mengambil tindakan yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Individu merasa bertanggung jawab atas munculnya masalah tersebut.
  • Positive repprasial.
 Individu berusaha mengambil sisi positif dari permasalahan yang dihadapinya yang dapat membantu pertumbuhan pribadinya. Menurut Carver, Scheire dan Weintraub (dalam Sarafino, 1998) terkadang hal ini disertai dengan meningkatnya kesadaran sisi religius individu (turnind to religion). Lebih jelasnya, Carver, Scheire dan Weintraub (dalam Sarafino, 1998) menyebut cara coping ini penting bagi beberapa individu, karena agama (keyakinan terhadap tuhan) dapat dijadikan sebagai dukungan sosial pribadi,
individu terkadang menganggap hal ini sebagai sebuah alat untuk dapat mencapai pertumbuhan pribadi yang positif dan strategi coping yang aktif.
  • Seeking for social support (for emotional reason).
 Jenis coping ini lebih mengarah kepada dukungan moral yang diperoleh individu, simpati ataupun pengertian dari orang lain terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

  1.  Coping Maladaptif
Coping Maladaptif adalah kecenderungan coping yang kurang bermanfaat dan kurang efektif dalam mengatasi sumber stres (Carver, Schaver dan Wentraub dalam Triyani Harika, 2000). Begitu pula jenis coping tersebut terbagi 4 strategi, antara lain:
  • Focusing and venting of emotions
Kecenderungan untuk memusatkan diri pada pengalaman distres atau kekecewaan individu dan untuk mengeluarkannya. Sedangkan penonjolan gej ala- gej ala distres dapat meningkatkan ketegangan dan menjauhkan individu dari usaha coping aktif.
  • Behavioral Disengagement
Mengurangi usaha dalam menghadapi situasi yang menimbulkan stres bahkan menyerah atau tidak melakukan apapun terhadap sumber stres tersebut. Perilaku ini muncul pada seseorang yang merasa bahwa apapun yang dilakukannya tidak akan menimbulkan hasil. Fenomena ini sering disebut “Helplessness”.
  • Mental Disengagement
Merupakan variasi dari behavioral disengagement yaitu perilaku yang muncul apabila suatu kondisi tidak memungkinkan dilakukannya behavioral disengagement. Mental disengagement berupa kegiatan yang bertujuan untuk melupakan sressor yang sedang dihadapi misalnya dengan menghayal atau day dreaming, tidur, menonton dan berolahraga.
  • Alcohol Drug Disengagement
 Individu berusaha untuk melepaskan diri dari masalah dengan lari kepada alcohol atau obat-obatan terlarang.


























Kamis, 13 Oktober 2011

REVIEW JURNAL TENTANG PHOBIA


Phobia :Penelitian Tiga Jurnal Dari Negara Jerman, Spanyol, Dan Amerika Serikat
(peneliti)
1.      Luis Joaquín Garcia-Lopez1, Rosa Mª Bermejo2, And Mª Dolores Hidalgo2
2.      Ian Stevenson
3.      Beate Muschalla

Hasil Penelitian Dari Negara:
·         Research Group of Psychosomatic Rehabilitation, Charité University of Medicine, Berlin and Rehabilitation Center Seehof/Teltow, Germany(jerman,2009)
·         Department of Behavioral Medicine and Psychiatry, University of Virginia
School of Medicine, Charlottesville, VA 22908(amerika serikat, 1990)
·         Universidad de Jaén (Spain) Universidad de Murcia (Spain) (spanyol, 2010)

Abstrak

Kecemasan merupakan fenomena stimulus-terikat. Tempat kerja rangsangan kompleks yang sangat rentan terhadap memprovokasi kecemasan. Dalam serangkaian 387 anak-anak yang mengaku mengingat sebelumnya fobia kehidupan terjadi di 14 1 (36%). The fobia hampir selalu berhubungan ke modus kematian dalam kehidupan orang meninggal anak mengaku ingat. Mereka biasanya diwujudkan antara usia 2 dan 5, dan kadang-kadang anak menunjukkan fobia pada masa bayi awal sebelum mulaiberbicara tentang kehidupan sebelumnya.
A.    Tujuan Penelitian

Tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan potensi SPIN sebagai tindakan skrining untuk remaja berbahasa Spanyol dan untuk menentukan cut-off skor yang optimal. Tujuan kedua adalah untuk menganalisis struktur keandalan dan faktor SPIN dalam remaja dengan diagnosis DSM-IV dari fobia sosial dan mereka yang tidak. Dalam rangka untuk mengevaluasi lebih lanjut sifat psikometri dari SPIN, penelitian ini juga diperiksa sensitivitas sebagai ukuran perubahan gejala setelah intervensi, sekolah berbasis kognitif-perilaku bertujuan untuk mengatasi kecemasan sosial pada remaja. Ini adalah studi pertama untuk melaporkan utilitas potensi SPIN sebagai ukuran hasil setelah perawatan psikologis pada remaja.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan apakah kelompok individu  yang dipamerkan menghindari fobia tempat kerja  bisa diidentifikasi dari segi psiko-fisiologis mereka  dan tanggapan psikologis untuk acara kerja stres. Semua peserta menunjukkan peningkatan psiko-fisiologis  gairah dan respon psikologis kejadian bekerja stres dibandingkan dengan peristiwa netral. Fobia tempat kerja  kelompok menunjukkan tanggapan nyata peningkatan denyut jantung  dan subjektif laporan ketakutan yang membedakan mereka dari  kelompok yang lain. Perkembangan menghindari fobia respon telah dibahas oleh penulis dalam hal belajar.







B.     Metode Penelitian

Peserta Sampel terdiri dari 192 remaja (63% perempuan) dari tiga swasta dan delapan publik yang tinggi-sekolah di keadaan ukuran sedang di selatan Spanyol. Sekolah dipilih dengan metode clustered random sampling dari daftar sekolah Departemen Pendidikan. Meanusia sampel ini adalah 15,91 tahun (SD: 0,81, kisaran: 15 -17). Tabel 1 memberikan penjelasan rinci tentang usia dan karakteristik gender untuk SAD dan sampel kontrol. Dari peserta yang diberi diagnosis utama umum sosial fobia menurut DSM-IV-TR (APA, 2000),menyelesaikan enam belas dua belas minggu, berbasis sekolah, cognitivebehavioral pengobatan, dengan bagian SPIN yang dari baterai hasil penilaian.( Luis Joaquín Garcia-Lopez1 DKK, 2010) Wawancara adalah metode utama penyelidikan kasus ini. anak, jika ia akan berbicara dengan kami, dan orang tua selalu diwawancarai. Lama saudara, kakek-nenek, dan informan lainnya (asalkan mereka secara langsung saksi) juga diwawancarai. Dalam banyak kasus keluarga subyek dikunjungi dua kali atau beberapa kali: untuk mengisi informasi yang hilang, untuk memeriksa konsistensi informan, untuk memenuhi informan yang tidak hadir sebelumnya, dan untuk mengamati anak lebih lanjut pembangunan.(ian stevenson, 1990)



HASIL PENELITIAN


A.     Pengertian

            Fobia adalah ketakutan irasional atau ketakutan besarnya yang jauh melebihi kekuatan stimulus diamati. Agras, Sylvester, dan Oliveau (1969) fobia dibedakan dari rasa takut oleh besarnya pengalaman dan terkait cacat, namun sebuah gradasi kontinu terjadi antara ringan ketakutan dan yang ekstrim bahwa kami dapat menunjuk sebagai fobia.( ian Stevenson, 1990)

B.      Prevalensi

Prevalensi ini di ambil dari beberapa jurnal (jerman, spanyol, dan amerika serikat)ketakutan yang kuat sering terjadi pada anak-anak. Macfarlane, Allen, dan Honzik(1 954) menemukan bahwa 90% dari anak-anak (berumur antara 2 dan 14) disurvei diBerkeley, California, telah mengalami setidaknya satu ketakutan tertentu. Puncakkejadian terjadi antara usia 3, dan 4 ketika 67% dari perempuan dan 56% dari anak-anak menunjukkan kekhawatiran. survei lain juga menunjukkan tinggi insiden ketakutan pada anak. Sebagai contoh, Lapouse dan Monk (1959) menemukan bahwa 58% dari 482 anak-anak antara usia 6 dan 12 yang disurvei di Buffalo, New York, memiliki setidaknya satu ketakutan penting, dan 42% memiliki tujuh atau lebih ketakutan. Cummings (1944), dalam sebuah survei terhadap 239 sekolah bahasa Inggris anak-anak antara usia 2 dan 7, menemukan bahwa 22% dari anak-anak menunjukkan spesifik ketakutan.(ian Stevenson, 1990)
prevalensi seumur hidup gangguan kecemasan sosial pada remaja biasanya berkisar antara 2 dan 9% (Essau, Conradt, & Petermann, 1999; Fehm, Pelissolo, Furmark, & Wittchen, 2005; Gren-Landell et al, 2009;. Ranta, Kaltiala-Heino , Rantanen, & Marttunen, 2009). (Luis Joaquín Garcia-Lopez1, 2010)
Diantara 387 subyek yang mengaku fobia mengingat kehidupan sebelumnya terjadi di 141 (36%) (Cook et al, 1983.). Fobia terjadi dengan hampir frekuensi yang sama persis dalam kasus-kasus yang belum terpecahkan seperti di terpecahkan. Mereka terjadi(Tapi dengan berbagai frekuensi) dalam kasus semua budaya sejauh ini diperiksa. Diantara kasus memecahkan insiden terendah 26% dalam kasus India dan tertinggi 5 1% dibandingkan pada Druses al Lebanon (et Cook.1983). Di antara 42 (nontribal) kasus di Amerika Serikat fobia terjadi di 13 (3 1%) dari subyek (Cook et al, 1983.)(ian Stevenson, 1990)

Prevalensi fobia tempat kerja  Sampai saat ini, tidak ada tingkat prevalensi yang diketahui tentang frekuensi fobia tempat kerja pada umumnya bekerja populasi. sampel klinis telah diselidiki saat ini (Muschalla, 2008): di dalam sampel 230 rehabilitasi psikosomatik pasien rawat inap (71% perempuan), 17% memenuhi kriteria dari fobia tempat kerja. Pasien bekerja dalam domain pendidikan adalah yang paling sering menderita fobia tempat kerja (9% pasien yang bekerja di domain yang memenuhi kriteria fobia tempat kerja). Tempat Kerja fobia ditemukan paling sering di karyawan di kantor dan administrasi (22%), serta karyawan non-akademik kesehatan praktis (21%). Dalam domain pelayanan, perdagangan, jaminan dan bank 16% menderita fobia tempat kerja, dan 11% dalam domain gedung, manufaktur dan industri produksi. Dalam sampel pasien rawat inap rehabilitasi jantung, ada 5,6% dari 210 pasien yang menderita
fobia tempat kerja (Linden, Muschalla, Markova)

C.      Etiologi
Mengingat konsekuensi serius dari kecemasan masa kanak-kanak, serta penderitaan seumur hidup biasanya berhubungan dengan gangguan dan biaya ekonomi untuk masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AUC untuk ROC adalah 0,86 (95% CI, .81 -. 92) dan signifikan versus kesempatan atau garis ROC acak (p <.001). Hal ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan 86% bahwa remaja dengan gangguan kecemasan sosial akan memiliki skor lebih tinggi pada SPIN daripada akan seorang remaja tanpa diagnosis tersebut. Meskipun AUC adalah indeks global yang paling banyak digunakan akurasi diagnostik, Indeks Youden (Youden, 1950) merupakan ukuran umum dari keseluruhan diagnostik (Luis Joaquín Garcia-Lopez1, 2010)
D.     Penanganan (terapi)
Penelitian ini merupakan bagian dari proyek tiga-tahap yang lebih besar. Tahap I melibatkan penyaringan siswa, ini menjadi langkah penting dalam rangka untuk melakukan tahap II. Secara khusus, tahap saya mulai dengan mendapatkan persetujuan dari orang tua atau wali hukum, dan kemudian dua asisten peneliti dilatih diberikan skala dan memberikan instruksi untuk menyelesaikan SPAI dan SAS-A. Siswa menyelesaikan inventarisasi laporan diri di dalam kelas mereka. Karena situasi kelompok artifisial dapat meningkatkan kecemasan atau membuat situasi di mana keinginan sosial mungkin mempengaruhi hasil, siswa meninggalkan ruang antara kursi. Siswa yang orang tua atau wali yang sah menandatangani formulir persetujuan dan mengembalikannya pada tanggal penilaian berpartisipasi dalam penelitian (induk persetujuan rate: 89%). Pada tahap II, wawancara diagnostik dan tindakan diri-laporan yang diberikan kepada: 1) 142 siswa yang dinilai lebih tinggi daripada kombinasi 70 dan 53 pada SPAI dan SAS-A, masing-masing (ini menjadi nilai cut-off didefinisikan oleh Olivares, Garcia-Lopez, Hidalgo et al, 2002);. dan 2) sampel acak dari 50 siswa kontrol yang tidak melebihi cut-off skor. Akibatnya, 192 siswa dinilai pada tahap II dan menyediakan sampel untuk studi ini. Dari jumlah tersebut, dan menggunakan ADIS-IV-C sebagai alat diagnostik, 114 remaja memenuhi kriteria DSM-IV untuk gangguan kecemasan sosial. Para asisten peneliti dilatih oleh penulis pertama dalam bagaimana mengelola wawancara. Inter-penilai reliabilitas dihitung dengan menggunakan metode koefisien kappa. Hasil (rata-rata koefisien kappa 0,82) menunjukkan kehandalan yang sangat baik antar-penilai sesuai dengan kriteria Landis dan Koch (1977).Pada tahap III, remaja dengan diagnosis klinis fobia sosial umum diundang untuk menerima, gratis berbasis sekolah, intervensi CBT disebut IAFS (Intervencion para remaja yang con fobia Sosial / Terapi untuk Remaja dengan Social Phobia: Garcia-Lopez, 2007; Olivares & Garcia-Lopez, 1998), desain yang didasarkan pada Sosial Efektivitas Terapi untuk Anak-anak dan Remaja (SET-C; Beidel, Turner, & Morris, 2003) dan Grup Cognitive Behavioral Therapy untuk Remaja (CBGT-A; Albano & DiBartolo, 2007). Para IAFS terdiri dari dua belas, sesi kelompok mingguan, masing-masing berlangsung 90 menit. Teknik termasuk keterampilan sosial, paparan dan teknik kognitif Beck's restrukturisasi. Pengobatan juga mencakup paparan situasi sosial menggunakan asisten peer dan video-umpan balik. Seiring dengan sesi kelompok, konseling individual mungkin mingguan dijadwalkan sesuai kebutuhan. Ini intervensi, sekolah berbasis kognitif-perilaku telah terbukti efektif di satu-dan lima-tahun tindak-up (Garcia-Lopez dkk, 2002, 2006;.. Olivares, Garcia-Lopez, Beidel et al, 2002) . Subjek dalam sampel klinis diperlakukan oleh penulis pertama, yang memegang gelar PhD dalam bidang psikologi dan memiliki dua belas tahun pengalaman mengobati kecemasan sosial, dan enam co-terapis (mahasiswa doktoral atau mahasiswa tingkat master canggih, yang telah menerima 25 jam seminar)

            Dari sampel didiagnosis dengan SAD (n = 114), 21 setuju untuk berpartisipasi dalam protokol pengobatan. Dalam kelompok ini sub-SPIN itu diberikan baik sebelum dan sesudah program terapi. Alasan penolakan untuk memasuki sidang adalah kurangnya izin orang tua, melaporkan non-ketersediaan waktu, masalah transportasi, dan rendah diri-persepsi fobia sosial sebagai kondisi diobati. Enam belas remaja (76% perempuan), dengan rentang usia 15 sampai 18 tahun (M = 16.9, SD = 0,68), menyelesaikan protokol pengobatan dan dinilai pretest dan posttest menggunakan SPIN sebagai salah satu tindakan pengobatan hasil. Remaja secara acak ditugaskan untuk tiga kelompok (cakupan peserta per kelompok: 5-6).( Luis Joaquín Garcia-Lopez dkk,2010)

HASIL PENELITIAN PARA AHLI

A.     Phobia sosial di spanyol

Fobia Sosial dan Kecemasan Inventory-Brief (SPAI-B). Aversi singkat dari SPAI untuk remaja baru-baru ini dipublikasikan (Garcia-Lopez, Beidel et al, 2008.). The SPAI-Bterdiri dari enam belas item (skala Likert-type: 1-5) dan,  sebagai dengan skala asli, menilai kognitif, somatik dan perilaku gejala kecemasan sosial. Tidak ada cut-off skor tersedia pada saat ini.

            Hasil menunjukkan bahwa Phobia Sosial Persediaan telah menunjukkan sifat psikometrik yang baik dan memang dapat digunakan sebagai alat skrining pada remaja yang berbahasa Spanyol.
Gender dan perbedaan usia kecemasan sosial Hasil analisis varians (ANOVA) untuk jumlah sampel (N = 192) dengan jenis kelamin dan usia sebagai antara subjek,  faktor menunjukkan bahwa anak perempuan dinilai lebih tinggi (M = 23,23, SD = 14,39) dibandingkan anak laki-laki (M = 20,37, SD = 11,74) pada sosial kecemasan yang diukur dengan SPIN tersebut. Namun, tidak ada perbedaan signifikan secara statistik terkait dengan gender atau variabel umur (p> .05), dan tidak ada yang signifikan interaksi antara jenis kelamin dan umur (p> .05). Tabel 2 menyajikan skor SPIN sebagai fungsi dari jenis kelamin dan usia. Dalam sampel SAD (n = 114), analisis varians (ANOVA) untuk jenis kelamin pada usia kembali menunjukkan bahwa gadis-gadis mencetak lebih tinggi (M = 30,55, SD = 13,05) dibandingkan anak laki-laki (M = 25,89, SD = 10,73), walaupun tidak ada perbedaan statistik yang ditemukan. F (1, 108) = 3,30, p = 07. (Luis Joaquín Garcia-Lopez, 2010)
Pada setiap nilai potensi cut-off (fobia diagnosis sosial dengan cara ADIS-IV-C), sensitivitas dioperasionalkan sebagai persentase remaja yang memenuhi kriteria untuk gangguan kecemasan sosial dan diklasifikasikan dengan benar menggunakan skor SPIN. Spesifisitas dioperasionalkan sebagai persentase remaja yang tidak memenuhi kriteria SP dan yang benar diidentifikasi sebagai tidak memiliki SP. Mengingat hubungan terbalik antara sensitivitas dan spesifisitas, penentuan cut-off skor yang optimal memerlukan keseimbangan yang menguntungkan antara kedua. Nilai prediktif positif (PPV) ditentukan dengan menghitung persentase remaja digolongkan pada setiap skor cut-off memiliki SP dan yang memang memenuhi kriteria SP. Nilai prediktif negatif (NPV) ditentukan dengan menghitung persentase remaja digolongkan sebagai non-SP dan yang memang tidak memenuhi kriteria diagnostik untuk SP.

B.     Phobia pada anak di amerika serikat
 fobia hampir selalu sesuai dengan mode diklaim kematian di sebelumnya hidup. Seorang anak yang mengaku dapat mengingat kehidupan yang berakhir pada tenggelam mungkin memiliki fobia yang direndam dalam air, orang yang mengaku mengingat kehidupan yang berakhir pada penusukan mungkin memiliki takut senjata tajam, dan sebagainya. Kebanyakan fobia terjadi dalam kaitannya dengan kematian kekerasan dari semua jenis. Mereka terjadi lebih jarang dalam kasus-kasus anak yang ingat alam kematian. Dalam serangkaian 240 kasus pada fobia India terjadi di 53 (39%) dari 135 kasus dengan kematian kekerasan, tapi hanya (3%) 3 dari 105 kasus memiliki kematian alami (Stevenson, 1983a)
Para fobia sering menunjukkan generalisasi atau transfer (Shepard, 1987; Watson dan Rayner, 1920) dan asosiasi sensorik (Lief, 1955), dua fitur yang biasanya terjadi dengan fobia diakui telah mengikuti pengalaman traumatis. Sebuah contoh generalisasi terjadi dalam mata pelajaran (di India) yang ingat kehidupan sebelumnya dari kasta Brahmana-sadar dan memiliki keengganan untuk semua pria dengan janggut. suka ini rupanya berasal dari kenyataan
bahwa dalam periode kehidupan ingat (tahun 1920) Muslim (dan Sikh)
memakai jenggot, tetapi beberapa orang Hindu melakukannya (Stevenson, 1975). Contoh lain dari generalisasi terjadi dalam kasus anak Lebanon yang ingat kehidupan seseorang yang fatal terluka oleh truk, anak itu fobia
tidak hanya dari truk, tapi semua kendaraan bermotor (Stevenson, 19661 1974).



Ekspresi awal Fobia
Dalam banyak contoh anak telah terwujud fobia sebelum memiliki berbicara tentang kehidupan sebelumnya dari yang fobia sepertinya untuk menurunkan. Salah satu bayi Sri Lanka berjuang Karena banyak yang menolak dimandikan bahwa butuh tiga dewasa untuk terus ke bawah untuk ini. Selain itu, sebelum ia bisa bicara ia telah menyatakan (Pada usia 6 bulan) fobia ditandai bis dan menangis ketika diangkut dalam satu. Kehidupan dia kemudian digambarkan adalah seorang gadis muda (dari desa lain) yang telah berjalan di jalan sempit yang melintasi banjir padi ladang. Sebuah bus telah datang, dan gadis ini, melangkah mundur untuk menghindari hal itu, telah jatuh ke dalam air banjir dan tenggelam (Stevenson, 1977a).  Seorang anak laki-laki Turki menunjukkan rasa takut ditandai pesawat sebelum dia bahkan bisa berbicara, ketika ia melihat atau mendengar satu, ia akan lari kepada ibunya dan meringkuk atau menyembunyikan di bawah tempat tidur. Kemudian, ia menggambarkan kehidupan sebelumnya seorang pria yang telah tewas dalam kecelakaan pesawat (Stevenson, 1980). Subyek kasus lain (terpecahkan), seorang anak dari Sri Lanka, menunjukkan fobia polisi ketika ia baru saja mulai berbicara pada usia 1% tahun. Jika ia melihat sebuah kendaraan polisi atau polisi, ia akan berkata "Polisi" dan jalankan dalam rumah. Ketika dia sekitar 4 tahun, dia memberikan rincian sebelumnya kehidupan yang berhubungan erat dengan peristiwa di Sri Lanka pada bulan April 197 1, pada saat polisi dan tentara ditekan pemberontakan serius dimana mereka membunuh ratusan pemberontak. Orangtuanya percaya bahwa anak mereka menggambarkan kehidupan salah satu pemberontak tewas dalam pemberontakan tersebut.




C.     Kasus phobia tempat kerja di jerman
fobia tempat kerja adalah:
 Ketakutan intensif yang dilaporkan sendiri ketika mendekati atau  melewati
tempat kerja,  penelitian empiris Little fobia dipublikasikan di tempat kerja. Temuan baru-baru ini mendukung asumsi bahwa fobia tempat kerja dapat dibedakan diferensial diagnosa dari kecemasan konvensional dan gangguan mental lainnya.
Tempat kerja biasanya mengandung rangsangan yang secara khusus rentan untuk memprovokasi kecemasan: Ada hirarki sosial  (Thomas & Hynes, 2007), akan ada konflik dengan rekan-rekan  atau atasan sering digambarkan dalam hal mobbing atau  memerintah (Bilgel, Aytac, & Bayram, 2006; Yildirim & Yildirim,  2007), yang dapat menimbulkan kecemasan sosial. Mungkin ada  ketidakpastian tentang masa depan dan menjaga pekerjaan (Strazdinsetal, 2004),.
Kecemasan sehubungan dengan tempat kerja kerap kali digambarkan dengan menggunakan kategori konvensional gangguan kecemasan  atau rasa kecemasan umum (Haslam et al, 2005.; Melchior et al, 2007;. Wieclaw, 2006). Namun, ada  juga khusus kecemasan kualitas, terkait dengan rangsangan tertentu atau  kondisi kerja, seperti kecemasan kinerja artis (Fehm & Schmidt, 2006) atau reaksi stres pasca trauma pada perawat (Laposa et al, 2003;. MacDonald et al, 2003.), Atau computerand berhubungan dengan teknologi ketakutan di usia karyawan yang lebih tua (Beutelet al, 2004). Mengenai yang terakhir, aspek kompetensi defisit sebagai salah satu pemicu untuk untuk kegelisahan tempat kerja terkait harus dipertimbangkan. Ada bukti bahwa kompetensi umum defisit terkait dengan kecemasan kerja terkait: pasien tanpa sertifikasi profesional lebih cenderung  menderita dari kecemasan yang berhubungan dengan tempat kerja dibandingkan pasien dengan menyelesaikan pelatihan profesional dansertifikasi(Muschalla,2008).

Pendekatan lain adalah sekarang dilakukan dengan berfokus pada diferensial  aspek diagnostik dan deskripsi fobia tempat kerja sebagai fenomena klinis dan sosio-medis yang relevan (Linden, 2006) yang terjadi sebagian independen dari konvensional  gangguan mental: Penelitian di sampel psikosomatik serta rehabilitasi jantung pasien rawat inap memiliki  ditunjukkan bahwa terdapat pasien dengan kecemasan tempat kerja terkait  dan fobia tempat kerja yang pada saat yang sama tidak  kecemasan konvensional gangguan (Linden & Muschalla, 2007; Muschalla, 2008) Etiologi fobia tempat kerja Berbeda kualitas kecemasan utama yang berhubungan dengan tempat kerja (Linden & Muschalla, 2007) diharapkan berpotensi muncul bersama dengan (atau menyebabkan) fobia tempat kerja (Gambar 1). Mirip  untuk gangguan kecemasan konvensional, ini utama workplacerelated  kegelisahan dapat terjadi sebagai fenotip yang berbeda, seperti  kecemasan insufisiensi, umum mengkhawatirkan, khusus sosial ketakutan, panik dalam situasi tertentu bekerja non-sosial, posttraumatic stres atau penyesuaian reaksi, yang berhubungan dengan kesehatan kegelisahan.

Tempat Kerja fobia - kriteria diagnostik Pertanyaannya adalah status fobia tempat kerja bisa mendapatkan dalam sistem klasifikasi gangguan mental. Berbicara  dari "fobia tempat kerja", yang "phobia khusus" istilah  datang ke pikiran. Dalam hal ini, fobia tempat kerja dapat  digambarkan sebagai sindrom fobia yang terkait dengan tertentu, tetapi  sangat kompleks stimulus. Tabel 1 menunjukkan saran untuk diagnostik  kriteria fobia tempat kerja yang telah diadopsi dari DSM-IV (American Psychiatric Association, 1994)  kategori fobia spesifik (300,29). Sebagian besar kriteria asli dari "phobia Tertentu" menurut  untuk DSM-IV telah dialihkan untuk deskripsi dengan gejala fobia tempat kerja. Namun, asli  kriteria C, pengakuan dari reaksi kecemasan sebagai tidak masuk akal  dan berlebihan oleh yang terkena, tidak dapat diadopsi  untuk fobia tempat kerja, karena kebanyakan pasien menderita tempat kerja fobia menjelaskan alasan mengapa mereka takut. Mereka biasanya tidak melihat kecemasan mereka sebagai berlebihan. Namun demikian, mereka menderita parah dari itu dan memiliki partisipasi yang bermakna gangguan yang menyebabkan kembali bahkan lebih  kesulitan di tempat kerja. Kriteria C merupakan alasan utama untuk membenarkan khusus klinis  nilai fobia tempat kerja dan posisi diferensial dalam dibandingkan dengan gangguan kecemasan konvensional. Bahkan, fobia tempat kerja bisa dalam banyak kasus dipahami sebagai subtipe dari "patologis Realangst" (Linden, Dirks, Glatz, 2008), yaitu persepsi kecemasan yang mengarah ke parah penurunan dan menderita sementara membahayakan realistis stressor hadir. Dalam konsep ini, konsekuensi (Aktivitas dan partisipasi gangguan, kriteria D, E,


KESIMPULAN

Karena temuan empiris dan implikasi praktis mereka  yang telah dibahas, tampaknya perlu untuk menjelaskan  fenomena phobia tempat kerja dengan ekstra diagnosis bukan subsuming di bawah suatu kecemasan konvensional gangguan seperti "agoraphobia". Itu membuat perbedaan apakah seseorang menghindari meninggalkan flat sendiri karena  takut untuk datang ke dalam situasi di mana bantuan tidak memungkinkan (agoraphobia),  atau apakah
seseorang menghindari pacaran karena mungkin konfrontasi dengan rekan atau atasan dari  takut tempat kerja (fobia tempat kerja). Dalam kedua kasus reaksi penghindaran terlihat seperti sama, dan keterlibatan diagnosis agoraphobia, tetapi mekanisme psikologis berbaring di belakang berbeda. (ian Stevenson,1990)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa AUC untuk ROC adalah 0,86 (95% CI, .81 -. 92) dan signifikan versus kesempatan atau garis ROC acak (p <.001). Hal ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan 86% bahwa remaja dengan gangguan kecemasan sosial akan memiliki skor lebih tinggi pada SPIN daripada akan seorang remaja tanpa diagnosis tersebut.( Joaquín Luis Garcia-Lopez1, 2010)

            Angka diberikan untuk jumlah kasus dimasukkan dalam analisis yang berbeda bervariasi, karena dalam beberapa
kasus informasi yang diperlukan untuk fitur tertentu yang hilang atau dinilai tidak dapat diandalkan. Fobia pada anak-anak 253 Penggunaan kata ganti maskulin untuk menunjuk subyek pada umumnya tidak dimaksudkan untuk mengurangi pentingnya subyek perempuan. Hal itu terjadi, bagaimanapun, bahwa dalam 1.095 kasus 62% dari subjek adalah laki-laki, perempuan 38%. 1 mendiskusikan kemungkinan alasan untuk hal ini rasio miring di
tempat lain (Stevenson, 1987). Dimana saya tidak memberikan referensi untuk contoh, saya
belum menerbitkan laporan rinci tentang contoh kasus di mana terjadi. Variasi dalam insiden yang dilaporkan untuk berbagai jenis fobia mungkin mencerminkan berbeda kemungkinan untuk terpapar stimulus dari fobia.