Sabtu, 12 November 2011



A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Prabowo,( 1998) mengungkapkan stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan karena individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal. Dan penuturan ini ditambahkan pula oleh Goldberger dan Brenitz (dalam Lidwina, 2004), penyebab stres (stressor) dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari situasi eksternal yang dapat mempengaruhi individu. Jelas disini tidak hanya dari penuturan Lazarus saja tetapi dari Goldberger dan Brenitz juga yang menyatakan bahwa faktor eksternal merupakan salah satu penyebab terjadinya stres, dan faktor eksternal disini meliputi faktor lingkungan, yang berupa lingkungan masyarakat,
Stress adalah bawaan azali manusia apabila kita pandang dengan marah dan benci maka akan kelihatan semua keburukannya namun, jika kita pandang dengan rasa  sayang dan cinta maka akan tampak semua kebaikannya. stres adalah utusan tuhan untuk mendidik hambah-Nya agar mau tunduk kepada-Nya stress adalah utusan tuhan agar manusia menjadi manusia.
Membahas tentang stress sama sulitnya dengan membahas manusia, karena menurut kierkegard stress adalah ciri-ciri kemanusiaan itu sendiri. Dalam batas-batas tertentu stress memang dapat menggagu integritas kemanusiaan kita. Akan tetapi, dalam batas tertentu pula stress dapat “ membantu” kita mencapai hakikat kemanusiaan. Dalam bahasanya martin Heidegger, stress adalah akses istimewa pada pengetahuan diri. Booker T.Washington mengajarkan kepada kita, “ kerumitan membuahkan sifat-sifat terbaik dalam diri seseorang dan memungkinkannya menjadi unggul”.  Memahami stress seperti memahami apa itu dingin, panas, manis, pahit, asin, atau asam. Kita semua mengerti ke enam rasa tersebut. Akan tetapi, kita tidak akan pernah bisa membuat sebuah rangkaian kata yang bisa menjelaskan semua rasa itu. Rasa –rasa itu hanya bisa dipahami dengan merasakan rasa itu bukan dengan serentetan definisi, sebaik apapun definisi tersebut.


  1. TINJAUAN PUSTAKA

  1. Pengertian stres
Definisi stres secara terminology berasal dari bahasa latin “strictus” yang berarti ketat atau sempit. Dan menjadi kata kerja “stringere” yang berarti mengetatkan. Sedangkan menurut kamus psikologi, stres dapat di artikan sebagai suatu keadaan yang tertekan, baik secara fisik maupun psikologis.(chaplin, 2001:488).
Stres adalah respons tubuh yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya (hans selye, 1950). Stres juga merupakan suatu kondisi dinamik yang didalamnya seorang individu dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala, atau tuntutan yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkannya dan yang hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti atau penting (RS Sculer: 1980).
Selain definisi konseptual di atas, berikut ini terdapat juga beberapa definisi stres menurut para ahli yakni sebagai berikut:
  1. Menurut dadang hawari (1997:44-45) istilah stres tidak dapat dipisahkan dari stres akademik dan defresi, karena satu sama lain saling berkaitan.
  2. Menurut Baum (taylor, 2003) mengartikan stres sebagai “ pengalaman emosional yang negative yang disertai perubahan-perubahan biokimia, fisik, kognitif, dan tingkah laku yang di arahkan untuk mengubah peristiwa stres tersebut untuk mengakomodasi dampak-dampaknya.
  3. Menurut Santrock (2003) stres merupakan respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stres (stresor), yang mengancap dan mengganggu kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping).

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa stres adalah “perasaan tidak enak, tidak nyaman, atau tertekan baik fisik maupun psikis sebagai respon atau reaksi individu terhadap stressor ( stimulus yang berupa peristiwa, objek, atau orang) yang mengancam, mengganggu, membebani, atau membahayakan keselamatan, kepentingan, keinginan, atau kesejahteraan hidup seseorang.

  1. Pengertian strategi coping

Coping yaitu sebagai penyesuaian secara kognitif dan perilaku menuju keadaan yang lebih baik, mengurangi dan bertoleransi dengan tuntutan-tuntutan yang ada yang mengakibatkan stres, Radley (1994).

Pembahasan I

  1. Gejala stres
Menurut Rice (1998), secara umum gej ala- gej ala stres dapat dibedakan ke dalam empat macam jenis, yaitu gej ala- gej ala berupa perilaku, emosi, kognitif dan fisik :
·         Gej ala- gej ala perilaku (Behavioral symptoms)
Dari banyaknya gej ala- gej ala perilaku yang timbul, beberapa diantaranya adalah prokrastinasi dan avoidance, menarik diri dari teman dan keluarga, hilangnya nafsu makan dan tenaga, ledakan emosi dan agresi, berubahnya pola tidur (tidur tidak nyenyak).
·         Gejala- gejala Emosi (Emotive symptoms)
Gej ala- gej ala emosi yang paling umum adalah cemas, takut, mudah marah, dan depresi. Gej ala lainnya, ketakutan, frustasi, merasa bingung dan kehilangan kendali.
·         Gej ala- gej ala kognitif (Cognitive symptoms)
Gej ala- gej ala kognitif yang paling umum adalah hilangnya motivasi dan konsentrasi. Individu seakan-akan kehilangan kemampuan untuk memfokuskan perhatian pada tugas- tugas yang harus dikerjakan dan kehilangan kemampuan untuk menjalankan tugas-tugas tersebut dengan baik. Gej ala- gej ala mental dan kognitif lainnya adalah kekhawatiran yang berlebihan. Salah satu gej ala final dari gej ala kognitif ini adalah keinginan untuk melarikan diri dari situasi dimana dia berada.
·         Gejala- gejala fisik (Physical symptoms)
Gej ala- gej ala fisik yang paling umum adalah pegal- pegal dan lemas, migraine dan sakit kepala, sakit punggung termasuk sakit punggung bagian bawah, dan ketegangan otot yang dapat dilihat dalam bentuk kejang urat. Pada system kardiovaskular, stres seringkali direflesikan dengan meningkatnya detak jantung, hipertensi, dan buruknya peredaran darah arteri. Pada system
pernafasan, seringkali diperlihatkan dengan tarikan nafas yang cepat dan pendek- pendek dan mengalami kelelahan yang luar biasa.

  1. Fakror yang mempengaruhi stres
Lahey dan Cimnero (dalam Jannah, 2006), beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi manusia terhadap stres yaitu:
·         Intensitas dan lamanya stres
Pada umumnya semakin kuat dan semakin seseorang mengalami keadaan yang membuat stress, maka makin serius reaksi stres yang akan di alami.
·         Kehadiran stressor lain
Suatu sumber stres tidak hanya menyebabkan seseorang mengalami stres, taetapi juga akan membuat individu mudah terpengaruh oleh stressor lain. Menurut Holmes dan rahe (dalam Jannah, 2006) ada hubungan yang erat antara sakit yang serius dan jumlah kejadian stress yang dialami individu dalam kehidupannya.
·         Pengalaman terdahulu
Reaksi stres umumnya akan lebih kuat pada waktu individu mempunyai pengalaman terdahulu terhadap kejadian stres tertentu dan bila ia tidak mendapatkan peringatan tentang stres tersebut (casel dalam Jannah, 2006) misalnya jika individu pernah gagal mendapatkan pekerjaan, saat ia melamar lagi ke perusahaan lain untuk bidang pekerjaan yang sama, kemungkinan ia akan mengalami stres lebih besar dibanding stres yang ia alami sebelumnya.
·         Karakteristik Individu
Beberapa karakteristik dan keadaan tertentu membuat individu mengalami stres yang berbeda intensitasnya. Jenis kelamin, suku bangsa dan usia memegang peranan penting (Becker dkk dalam Jannah, 2006)
·         Dukungan sosial
Beberapa studi (Miller dan igham dalam Jannah, 2006), menunjukan bahwa stres yang dialami berbanding terbalik dengan dukungan sosial yang diterima. Artinya stres yang dialami berbanding terbalik dengan dukungan sosial yang diterima, artinya stres yang dialami bias menurun intensitasnya jika individu menerima dukungan sosial dari lingkungannya. Dukungan sosial yang dapat menurunkan kemungkinan individu berhadapan dengan situasi yang menekan diwaktu-waktu berikutnya (Cooper dan Payne, dalam Jannah, 2006)

  1. Tiga tahapan dalam stres
Menurut Sarafino (1998), tiga tahapan dalam stres atau lebih dikenal dengan General Adaption Syndrome (GAS) yaitu:
·         Alarm Reaction
Merupakan respon terhadap kondisi stres yang muncul secara fisik. Terjadi perubahan pada tubuh atau biokimia seperti tidak enak badan, sakit kepala, otot tegang, kehilangan nafsu makan, merasa lelah. Secara psikologi, meningkatnya rasa cemas, sulit konsentrasi atau tidur tidak nyenyak, bingung atau kacau. Mekanisme seperti rasionalisasi atau penyangkalan sering dilakukan.

·         Resistance
Kondisi dimana tubuh berhasil melakukan adaptasi terhadap stres. Gej ala menghilang, tubuh dapat bertahan dan kembali pada kondisi normal.
·         Exhaustion
Kondisi yang muncul jika stres berkelanjutan sehingga individu menjadi rapuh/ kehabisan tenaga. Secara fisik, tubuh menjadi breakdown, energi untuk beradaptasi habis, reaksi atau gej ala fisik muncul kembali, yang akhirnya dapat mengakibatkan individu meninggal. Secara fisiologis, musngkin terjadi halusinasi, delusi, perilaku apatis bahkan psikosis.

Pembahasan II

  1.  Faktor yang Mempengaruhi Strategi Coping
Menurut Mu`tadin (2002), cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan oleh sumber daya individu yang meliputi kesehatan fisik/energi, keterampilan memecahkan masalah, keterampilan sosial dan dukungan sosial dan materi,
·         Kesehatan Fisik
Kesehatan merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar
·         Keyakinan atau pandangan positif
Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti keyakinan akan nasib (eksternal locus of control) yang mengerahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan(helplessness) yang akan menurunkan kemampuan strategi coping tipe : problem-solving focused coping
·         Keterampilan Memecahkan masalah
Keterampilan ini meliputi
kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat.
·         Keterampilan sosial
Keterampilan ini meliputi
kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dimasyarakat.
·         Dukungan sosial
Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya
·         Materi
Dukungan ini meliputi sumber daya berupa uang, barang barang atau layanan yang biasanya dapat dibeli.

  1.  Jenis Coping stres
Menurut Lazarus dan Folkman (1976), cara coping dibedakan menjadi dua bagian besar berdasarkan tujuan atau intensi individu, yaitu:

  1. Problem Focused Coping.
Coping yang memfokuskan pada masalah ini melibatkan usaha yang dilakukan untuk merubah beberapa hal yang menyebabkan stres (stressor). Tujuannya adalah untuk mengurangi tuntutan dari situasi dan meningkatkan usaha individu dalam menghadapi situasi tersebut. Cara ini lebih sesuai apabila digunakan dalam menghadapi masalah atau situasi yang dianggap dapat dikontrol atau dikuasai oleh individu.

Menurut Carver, Scheiver dan Weintraub (dalam Triyani Harika, 2000) Dalam penelitiannya telah menyebutkan beberapa strategi coping yang bisa dikelompokan kedalam kelompok problem focused coping, yaitu:
·         Active coping, merupakan proses mengambil langkah aktif untuk mencoba menghilangkan stressor atau untuk meringankan dampaknya.
·         Planning, memikirkan
bagaimana cara untuk mengatasi stressor. Termasuk didalamya adalah memikirkan suatu strategi untuk bertindak, langkah-langkah apa yang harus diambil dan bagaimana cara paling baik untuk mengatasi masalah.
  • Restraint coping, menunggu sampai adanya kesempatan yang tepat untuk bertindak sebelum waktunya. Coping ini dapat dilihat sebagai strategi
yang aktif dalam arti tingkah lakunya dilakukan untuk mengatasi stressor, namun juga dapat dilihat secara pasif karena dalam strategi ini individu tidak melakukan tindakan apapun.
  • Seeking social support for instrumental reasons,
mencari nasihat, bantuan atau informasi.
  • Suppressing of competing activites.
 Salah satu bentuk coping yang di fokuskan pada masalah adalah individu berusaha membatasi ruang gerak/aktifitas dirinya yang tidak berhubungan dengan masalah. Dalam hal ini individu mengurangi keterlibatannya dalam kegiatan lain yang juga membutuhkan perhatian untuk dapat berkonsentrasi penuh pada tantangan manapun ancaman yang dialaminya. Yang juga termasuk dalam jenis coping ini adalah perilaku mengabaikan masalah lain untuk menghadapi sumber stres.



  1. Emotion Focused Coping
Coping ini merupakan bentuk coping yang lebih memfokuskan pada masalah emosi. Bentuk coping ini lebih melibatkan pikiran dan tindakan yang ditunjukan untuk mengatasi perasaan yang menekan akibat dari situasi stres. Emotion focused coping, terdiri dari usaha yang diambil untuk mengatur dan mengurangi emosi stres penggunaan mekanisme yang dapat menghindarkan dirinya dari berhadapan dengan stressor.
Lazarus, Folkman, dan rekannya (dalam Sarafino, 1998) telah menyebutkan beberapa strategi coping yang bisa dikelompokkan kedalam kelompok emotion focused coping, yaitu:
  • Distancing.
Individu mencoba membuat suatu pola pemikiran (berpikir) yang lebih positif terhadap masalah yang dihadapinya. Individu bisa mencoba bertingkah laku seakan-akan tidak pernah terjadi apapun. Individu mencoba untuk tidak terlalu terpengaruh dengan cara tidak terlalu memikirkan masalahnya. Carver, Scheier dan Weintraub (dalam Sarafino, 1998) menyebut bicara coping sebagai suatu usaha individu untuk menyangkal (denial) bahwa dirinya dihadapkan pada suatu masalah.
  • Escape- avoidance.
 Individu menghindari untuk menghadapi masalah yang dihadapinya. Contohnya, individu berkhayal bahwa akan ada suatu keajaiban yang bisa membuat masalahnya selesai. Biasanya individu mengambil tindakan pengalihan perhatian yang negatif (menghindar) terhadap masalahnya dengan tidur terus menerus, keluar rumah, lebih sering menonton televisi, merokok atau minum-minuman beralkohol.
  • Self control.
Individu mencoba untuk mengatur emosinya supaya tidak diketahui oleh orang lain dan mengatur tindakannya dalam menghadapi masalahnya.
  • Accepting responsibility.
 Individu menyadari perannya sebagai salah satu penyebab dari masalah yang dihadapinya dan mencoba mengambil tindakan yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Individu merasa bertanggung jawab atas munculnya masalah tersebut.
  • Positive repprasial.
 Individu berusaha mengambil sisi positif dari permasalahan yang dihadapinya yang dapat membantu pertumbuhan pribadinya. Menurut Carver, Scheire dan Weintraub (dalam Sarafino, 1998) terkadang hal ini disertai dengan meningkatnya kesadaran sisi religius individu (turnind to religion). Lebih jelasnya, Carver, Scheire dan Weintraub (dalam Sarafino, 1998) menyebut cara coping ini penting bagi beberapa individu, karena agama (keyakinan terhadap tuhan) dapat dijadikan sebagai dukungan sosial pribadi,
individu terkadang menganggap hal ini sebagai sebuah alat untuk dapat mencapai pertumbuhan pribadi yang positif dan strategi coping yang aktif.
  • Seeking for social support (for emotional reason).
 Jenis coping ini lebih mengarah kepada dukungan moral yang diperoleh individu, simpati ataupun pengertian dari orang lain terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

  1.  Coping Maladaptif
Coping Maladaptif adalah kecenderungan coping yang kurang bermanfaat dan kurang efektif dalam mengatasi sumber stres (Carver, Schaver dan Wentraub dalam Triyani Harika, 2000). Begitu pula jenis coping tersebut terbagi 4 strategi, antara lain:
  • Focusing and venting of emotions
Kecenderungan untuk memusatkan diri pada pengalaman distres atau kekecewaan individu dan untuk mengeluarkannya. Sedangkan penonjolan gej ala- gej ala distres dapat meningkatkan ketegangan dan menjauhkan individu dari usaha coping aktif.
  • Behavioral Disengagement
Mengurangi usaha dalam menghadapi situasi yang menimbulkan stres bahkan menyerah atau tidak melakukan apapun terhadap sumber stres tersebut. Perilaku ini muncul pada seseorang yang merasa bahwa apapun yang dilakukannya tidak akan menimbulkan hasil. Fenomena ini sering disebut “Helplessness”.
  • Mental Disengagement
Merupakan variasi dari behavioral disengagement yaitu perilaku yang muncul apabila suatu kondisi tidak memungkinkan dilakukannya behavioral disengagement. Mental disengagement berupa kegiatan yang bertujuan untuk melupakan sressor yang sedang dihadapi misalnya dengan menghayal atau day dreaming, tidur, menonton dan berolahraga.
  • Alcohol Drug Disengagement
 Individu berusaha untuk melepaskan diri dari masalah dengan lari kepada alcohol atau obat-obatan terlarang.


























Tidak ada komentar:

Posting Komentar