Kamis, 14 April 2011


BAB I
PEDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Stres adalah bawaan azali manusia apabila kita pandangan dengan marah dan benci maka akan kelihatan semua keburukannya namun, bila kita pandang dengan rasa sayang dan cinta maka akan tampak semua kebaikannya stres adalah utusan tuhan untuk mendidik hamba-Nya agar mau tunduk kepada-Nya stres adalah utusan tuhan agar manusia menjadi manusia(2009, Arfi Syamsun).
Langkah awal yang harus kita lakukan untuk mengelolah stres adalah memahami apakah stres itu. Memahami stres itu seperti memahami apa itu panas, dingin, manis, pahit, asam. Kita semua mengerti apa itu panas, dingin, pahit ,manis ,asam. Akan tetapi, kita tidak akan bisa membuat rangkaikan kata untuk menjelaskan semua rasa itu. Rasa itu hanya bisa di pahami dengan merasakan rasa itu bukan dengan serentetan definisi ,sebaik apapun definisi itu.
Namun kita akan berusaha memahaminya semampu kita agar kita punya bekal untuk “ bergaul” dengan stres itu . memahami stres itu adalah memahami manusia itu sendiri karena stres itu ciri pokok manusia itu. Tanpa pemahaman tentang manusia maka saya yakin usaha kita untuk merumuskan manajemen stres akan gagal.
Sebelum stres memiliki makna yang positif  dengan stres kita ditantang untuk menghadapi masalah demi mencapai prestasi yang lebih tinggi. Hanya saja stres yang berlebihan akan menggagu drajat kesehatan kita. Akibat buruk dari stres bagi kesehatan fisik kita tidak dapat diingkari. Kita dapat melihat beberapa orang yang mudah stres dia juga akan mudah terserang barbagai jenis penyakit.
Stres yang tidak dikelolah dengan baik dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangan hormonal, terkurasnya vitamin dan mineral , serta melemahnya sistem kekebalan tubuh. Keadaan stres akan merangsang pengeluaran hormon andrenalin secara berlebihan sehingga menyebabkan jantung berdebar keras dan cepat, hormon andrenalin juga diproduksi dalam jumlah banyak pada saat kita sedang marah.
Kerumitan yang terjadi pada motivasi untuk makan atau tidak makan, menyebabkan kita sering kali melihat banyak orang, terutama wanita, terjepit ditengah kebutuhan biologis mereka (untuk makan) dan budaya mereka (untuk tampil langsing). Proses evaluasi telah merancang wanita untuk menyimpan lemak yang dibutuhkan saat mengalami menstruasi, mengalami kehamilan, merawat anak, serta menghasilkan dan menyimpan estrogen setelah mengalami menopouse. Para wanita yang berasal dari budaya-budaya yang menurut para prianya memiliki tubuh yang saat gemuk akan terobsesi dengan berat badan dan akan terus-menerus melakukan diet, serta selamanya dengan kebutuhan alami tubuh mereka, yang menuntut nutrisi yang cukup. Dalam hal ini manusia dihadapkan pada pilihan yang berat, hal tersebut dapat menyebabkan gejala stres dan berakibat pada motivasi makan yang lemah.
Kedewasaan adalah kata yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Defenisi tentang itu pun menjadi sesuatu yang diperdebatkan. Deperdebatkan bagaimana mendefenisikan seseorang sebagai seseorang yang sudah dalam tahapan dewasa atau masih dalam tahapan dalam mencari kedewasaan atau belum dewasa. Kebanyakan orang masih menyebut tahap ini dalam lingkungan kehidupan kita, yaitu masih kanak-kanak. Jika kita harus mengkatagorikan seseorang sebagai orang dewasa dengan tingkat usianya tentunya ada batas minimumnya untuk seseorang dikelompokkan sebagai dewasa. Namun, jika mengkatagorikan seseorang sebagai dewasa dengan kemampuan intelektual, emosional, dan spiritualnya tentunya harus ada batasan minimum tingkat kecerdasan dari masing-masing komponen tersebut. Pada hal penetapan prediktif “dewasa” yang valid adalah hal yang penting bagi kita sebagai makhluk individu dan sosial. Dalam hal ini peneliti akan mengkaji motivasi makan pada remaja atau dewasa, oleh sebab itu peneliti menjabarkan apa itu stres ? bagaimana dewasa itu ?.
Dari uraian di atas, penulis ingin membahasa bagaimana stres berpengaruh bagi tubuh khususnya motivasi untuk makan. Di sinilah kami menarik judul yaitu “Pengaruh Stres Terhadap Motivasi Makan Remaja”.






B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti dapat menarik suatu rumusan masalah yaitu apakah ada pengaruh stres terhadap motivasi makan pada remaja.
Masalah dalam penelitian ini akan lebih spesifik lagi dan dapat dipaparkan sebagai berikut :
1.      Apakah stres dapat menurunkan motivasi makan pada remaja ?
2.      Apakah dampak positif stres pada remaja ?
3.      Seberapa besar pengaruh stres terhadap motivasi makan pada remaja ?
4.      Bagaimana tingkatan stres sehingga berpengaruh pada motivasi makan remaja ?
5.      Bagaimana gejala stres dapat mempengaruhi motivasi makan pada remaja ?

C.     Tujuan Penelitian
Penelitian ini bermaksud untuk mengkaji dan mempelajari secara ilmiah pengaruh stres terhadap motivasi makan pada remaja.
Untuk mencapai maksud di atas, maka tujuan yang akan dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk menjelaskan motivasi stres terhadapa pengaruh makan.
2.      Mengetahui mekanisme stres yang dapat berpengaruh pada motivasi makan.
3.      Mengetahui tingkat kedewasaan dalam menghadapi stres.
4.      Mengetahui akibat lemahnya motivasi makan dan berdampak buruk pada tubuh remaja.
5.      Menjelaskan defenisi kedewasaan.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.     Teori
1.      Defenisi Stres
Memahami stres adalah memahami manusia itu sendiri karena stres adalah ciri pokok manusia itu. Tanpa pemahaman tentang manusia maka saya yakin usaha kita untuk merumuskan management stres akan gagal.
Stres dipandang oleh agama sebagai ujian atau bala. Dalam kitab suci Al-Quran ujian adalah media yang digunakan oleh tuhan untuk mengetahui mana hambaNya yang benar-benar beriman dan mana yang hanya sekedar “mengaku beriman” analoginya adalah sebagaimana ujian di sekolah yang digunakan untuk menguji para murid yang pantas naik kelas mana murid yang tidak pantas naik kelas, jadi, stres (dalam bahasa agama adalah ujian) bukan pengejawantahan ketidak adilan tuhan, sebaliknya, stres adalah pengejawatan kasih sayangNya yang tidak terbatas.
Stres adalah respon tubuh yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya (hanselye,1950). Stres juga merupakan suatu kondisi dinamik yang di dalamnya seorang individu dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala, atau tuntutan yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkan dan hasilnya dipresepsikan sebagai tidak pasti atau penting (rs scules : 1980). Bila misalnya seseorang sanggup mengatasi beban pekerjaan yang berlebihan, maka yang bersangkutan tidak mengalami stres, tapi jika sebaliknya ia mengalami stres negative atau disebut dengan distress (seaward, brian luke : 2004). Jadi, secara umum stres berkaitan erat dengan kendala dan tuntutan. Rasulullah SAW bersabda : “ sungguh mengagumkan perkataan orang mukmin : seluruh urusan adalah kebaikan. Bila ia mendapat kesengan maka ia menyukainya sehingga hal itu menjadi kebaikan baginya, dan jika ditimpa suatu musibah, maka ia sabar sehingga hal itu menjadi kebaikan baginya.(Hr. Muslim).
Tidak semua orang yang mengalami steros psikososial yang sama akan mengalami stres. Teryanta pada seorang yang mempunyai tipe keperibadian tertentu (yaitu tipe keperibadian “A” (“A”type personality) atau di sebut pada pola perilaku tipe “A” (tipe “A” behavior pattern ) lebi rentan (vulnerable) terkena stres . sedangkan orang dengan tipe kepribadian “B” (“B” tipe personality or type behavior pattern )lebi kenal (immune) terhadap stres.
Ialah kaitannya dengan tipe kepribadian yang beresiko tinggi terkena stres (yaitu tipe “A”, resonmen dan chesney :1980) menggambarkan antara lain dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Ambius, agresif, dan konfetitif (suka akan persaingan), banyak jabatan rangkap.
2.      Kurang sabar, mudah tegang, mudah tersinggung dan marah (emosional).
3.      Kewaspadaan berlebihan, kontrol diri kuat, percaya diri berlebihan (over confidence).
4.      Cara bicara cepat, bertindak serba cepat, hyper aktif, tidak dapat diam.
5.      Bekerja tidak mengenal waktu (workholik).
Allah SWT berfirman : “dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya (Qs. Al thalag : 3).
6.      Pandai berorganisasi, memimpin dan memerintah (otoriter).
7.      Lebih suka bekerja sendirian bila ada tantangan.
8.      Kaku terhadap waktu, tidak dapat tenang ( tidak rileks), serba tergesa-gesa.
9.      Mudah bergaul (ramah), pandai menimbulkan perasaan empati, dan bila tercapai maksudnya, mudah bersikap bermusuhan.
10.  Tidak mudah dipengaruhi, kaku, (fleksibel).
11.  Bila berlibur pikirannya keperjalanan, tidak dapat santai.
12.  Berusaha keras untuk dapat segala sesuatunya sendiri.

Sedangkan orang yang berkepribadian tipe “B” atau pola perilaku tipe “B” adalah kebalikan dari tipe “A” tersebut di atas, yaitu dengan ciri-ciri antara lain sebagai berikut :
1.      Ambisinya wajar-wajar saja, tidak agresif dan sehat dalam berkompetisi, serta tidak memaksakan diri.
2.      Penyabar, tenang, tidak mudah tersinggung dan tidak mudah marah (emosi terkendali).
3.      Kewaspadaan dalam batas yang wajar demikian pula kontrol diri, dan percaya diri tidak berlebihan.
4.      Cara bicara tidak tergesa-gesa, bertindak pada saat yang tepat, perilaku tidak hyper aktif.
5.      Dapat mengatur waktu dalam bekerja (menyediakan waktu untuk istirahat).
6.      Dalam berorganisasai dan memimpin bersikap akomodatif dan manusiawi.
7.      Lebih suka bekerja sama dan tidak memaksakan diri bila menghadapi tantangan.
8.      Pandai mengatur waktu dan tenang (rileks), tidak tergesa-gesa.
9.      Mudah bergaul, ramah, dan dapat menimbulkan empati untuk mencapai kebersamaan (mutual bemevit).
10.  Tidak kaku (fleksibel), dapat menghargai pendapat orang lain, tidak merasa dirinya paling benar.
11.  Dapat membebaskan diri dari segala macam problem kehidupan dan pekerjaan manakala sedang berlibur.
12.  Dalam mengendalikan segala sesuatunya mampu menahan serta mengendalikan diri.
Tahapan Stres
Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah lagi kikir ; apabilah ia ditimpah kesusahan ia berkeluh kesah ;dan bilah mendapat kebaikan ia amat kikir ;kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat; yang mereka itu tetap mengerjakan sholat (QS . Al- ma’an :19-23)
Dr.Robert J.Van Amberg (1979) dalam penelitiannya membagi taha-tahap sters sebagai berikut.


1.      Stres  tahap 1
Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya di sertai dengan perasaan-perasaan sebagai beriku:
a.       Semangat bekerja keras, berlebihan (over acting).
b.      Pengelihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya:
c.        Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya: namun tanpa  disadari cadangan energi di habiskan (all out) di sertai rasa gugup yang berlebihan pula.
d.      Merasa senang dengan pekerjaannya itu dan semakin bertambah semangat, namun tanpa di sadari cadangan energi semakin menipis.
2.      Sters tahap 1.1
Keluhan-keluhan yang sering dilakukan oleh seseorang yang berada dalam stres tahap 11 tersebut di atas adalah sebagai berikut:
Rosullah SAW bersabda :
“ ya tuhanku aku berlindung pada-Mu dari kemalasan ,kesedihan, sikap lemah , malas, kikir, penyakit, himpitan hutang kedzaliman manusia” (Hr. Bukhari)

a.       Merasa letih saat bangun tidur , yang seharusnya merasa segar.
b.      Merasa mudah leleh setelah makan siang .
c.       Lekas merasa capek menjelang sore hari.
d.      Sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman (bowel discomprot).
e.        Detakan jantung lebih keras dari biasanya ( berdebar-berdebar).
f.        Otot-otot punggung dan punggung terasa tegang.
g.       Tidak bisa santai.
3.      Tahap 1.1.1
Bilah seseorang itu tetap memaksa dalam pekerjaannya tanpa mengeluhkan keluhan-keluhan sebagaimana yang di uraikan pada steras tahap 111 di atas. Maka yang bersangkutan akan menunjukan keluhan-keluhan yang semangkin nyta dan menggagu, yaitu :
a.       Gangguan usus dan lambung semakin nyata : seperti keluhan
“ maag” (gastritis) , buang air besar tidak teratur (diare)
b.      Ketegangan otot-otot semakin terasa .
c.       Perasaan ketidaktegangan dan tegangan emosional semakin meningkat.
d.      Gangguan pola tidur (insomnia),  misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia ) , atau terbangun tengah malam dan sukar kembali untuk tidur (middle insomnia ) atau bangun terlalu pagi dan tidak dapat tidur kembali tidur ( late insomnia ).
Pada tahapan ini hendaknya seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk  memperoleh trapi atau bisa juga beban stres hendaknya di kurangi , dan telah memperedah kesempatan beristirahat guna untuk menambah suplai energi yang menambah defisit.
4.      Stres tahap IV
Ciri-ciri stres tahap empat ini adalah :
a.       Untuk bertahan sepanjang hari saja sangat sulit.
b.      Aktivitas pekerjaan yang semula sangat menyenangkan dan mudah di selesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit.
c.       Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara memadai (adequte).
d.      Ketidakmampuan untuk melakukan kegiatan rutin sehari-hari.
e.       Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan
f.        Seringkali menolak ajakan (negativisme) karena tiada semangat dan kegairahan.
g.       Sulit konsentrasi dan daya ingat menurun.
h.       Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat di jelaskan apa penyebabnya.
5.      Stres tahap V
Bila keadaan berlanjut, maka seorang itu akan jatuhdan stres tahap V yang ditandai dengan hal-hal berikut :
a.       Kelelahan fisik dan mental yang semakin dalam.
b.      Ketidak mampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana.
c.       Gangguan sistem pencernaan semakin berat.
d.      Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik.
6.      Stres tahap VI
Tahap ini disebut dengan tahapan klimaks, karena seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati, gambaran stres tahapan VI ini adalah sebagai berikut :
a.       Debaran jantung teramat keras.
b.      Susah bernafas (sesak dan megap-megap).
c.       Sekujur badan terasa gemetar, dingin, dan keringat bercucuran.
d.      Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan.
e.       Pingsan atau kolaps (collapse).

Reaksi Tubuh Apabila Mengalami Stres,
asulullah SAW bersabda : “tidaklah seorang muslim ditimpa suatu kesulitan, kesusahan, sakit atau kesedihan hingga duka cita yang meresahkan dirinya kecuali Allah menghapus sebagian keburukannya”. (h.r. Muslim).
Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa yang dimaksud stres adalah reaksi atau respon tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan), sehinggah perubahan perilaku. Juga dapat menimbulkan perubahan yang terjadi pada tubuh, misalnya antara lain sebagai berikut :
1.      Rambut.
Berubah warna, kecoklat-coklatan dan kusam, ubanan dan rontolk.
2.      Mata.
Menjadi kabur akibat otot-otot bola mata kendor.
3.      Telinga.
Pendengaran sering terganggu dengan suara berdering (titnitus).
4.      Daya pikir.
Daya ingat dan konsentrasi menurun, pelupa dan sering mengeluh sakit kepala.
5.      Ekspresi wajah.
Wajah terlihat tegang, dahi berkerut, mimik tampak serius, tidak santai, bicara berat, sukar untuk senyum/tertawa dan kulit muka kedutan (ticfacials).
6.      Mulut.
Mulut dan bibir sering kering, tenggorokan seperti ada ganjalan sehingga terasa susah menelan, disebabkan oleh otot-otot lingkar di ternggorokan mengalami spasme (musclecramps) sehinggah terasa tercekik.
7.      Kulit.
Pada kulit sebagian tubuh terasa panas , dingin atau kering berlebihan , kelembaban kulit berubah , kulit kering ,datang penyakit kulit seperti eksim , urtikara (biduran), gatal-gatal dan pada kulit muka sering timbul jerawat (acne)  berlebihan kedua kaki dan telapak tangan terasa basah.
8.      Sistem pernapasan.
Terasa berat dan sesak jika bernapas , di sebabkan terjadinya penyempitan saluran pernapasan pada hidung dan tenggorokan , timbul penyakit asma (asthma bronchiale) di sebabkan napas pada paru-paru mengalami spasme.
9.      Sistem radiovaskuler.
Jatung berdebar, pembuluh dara melebar (dilatation) atau menyempit (contriction) sehinggah muka terlihat pucat dan merah.
10.  Sistem pencernaan.
Lambung terasa kembung, mual dan pedih. Hal ini disebabkan asam lambung yang berlebihan ( hyprcidity).
11.  Sistem perkemihan.
Frekuensi buang air kecil lebih sering padahal dia bukan penderita kencing manis (diabetes mellitus).
12.  Sistem otot dan tulang.
Otot sering terasa sakit seperti ditusuk-tusuk, pegal dan tegang, keluahan pada tulang persendian juga sering dialami, seperti ngilu dan rasa kaku, sering disebut pegal linu.
13.  Sistem endokrin (hormonal).
Kadar gula meninggi, bila berkepanjangan dapat terkena diabeter mellitus, pada wanita dapat terjadi menstruasi yang tidak teratur dan rasa sakit (dymenorvhoe).
14.  Libedo.
Libido naik drastis atau sebaliknya menurun.


2.      Defenisi Motivasi
Motivasi adalah suaru proses dalam diri manusia atau hewan yang menyebabkan organisme tersebut bergerak menuju tujuan yang dimili, atau bergerak menjauh dari situasi yang tidak menyenangkan.
Dalam ilmu psikologi motivasi terdiri atas dua, yaitu :
1.      Motivasi intrinsik
Suatu kegiatan untuk melakukan sesuatu karena memang menikmati kepuasan dalam melakukan tindakan tersebut.
2.      Motivasi ekstrinsik
Suatu keinginan untuk mengejar suatu tujuan yang diakibatkan oleh imbalan-imbalan yang bersifat eksternal seperti uang atau popularitas.

a.      Motivasi Untuk Makan
Beberapa orang memilki tubuh yang kurus, sedangkan beberapa orang lainnya memiliki tubuh yang gemuk. Beberapa orang memiliki bentuk tubuh seperti gitar, sedangkan beberapa orang lainnya memiliki bentuk tubuh seperti buah pear. Beberapa orang dapat memakan apapun yang mereka inginkan tanpa mengalami kenaikan berat badan, sedangkan beberapa orang lainnya berjuang sepanjang hidupnya untuk menurunkan beberapa pon berat badannya dan tidak berhasil.
1.      Gangguan pola makan
Kerumitan yang terdapat dalam motivasi untuk makan atau tidak makan menyebabkan kita sering kali melihat banyak orang, terutama wanita, terjepit di tengah kebutuhan biologis mereka (untuk makan) dan budaya mereka (untuk tampil langsing).
Proses evaluasi telah merancang wanita untuk menyimpan lemak yang sangat dibutuhkan saat mengalami menstruasi, mengalami kehamilan, merawat anak serta menghasilkan dan menyimpan estrogen setelah mengalami monopose. Para wanita yang berasal dari budaya-budaya yang menurut para wanitanya memiliki tubuh yang sangat gemuk akan terobsesi dengan berat badan dan akan terus-menerus melakukan diet, serta selamanya berperang dengan kebutuhan alami tubuh mereka, yang menuntut nutrisi yang cukup.
Bulimia : adalah gangguan pola makan yang ditandai oleh sejumlah episode pola makan yang berlebihan (beeneing) yang diikuti oleh usaha memuntahkan makanan yang dilakukan dengan paksaan atau menggunakan obat pencahar.

Anoreksia ( anorexia nervosa) adalah gangguan pola makan di tandai oleh rasa takut menjadi gemuk , meminta distrosi mengenai gambaran bentuk tubuh, usaha mengurangi jumlah makanan secara radikal dan memiliki bentuk tubuh kurus yang tidak normal.

Beberapa orang gagal memenangkan peperangan tersebut, dan mengembangkan gangguan pola makan yang serius , yang merupakan suatu imbas dari ketakutan internal menjadi gemuk. Para penderita bulimia , akan melahap makanan dalam jumlah besar, dan akan membuang makanan tersebut dengan cara memberi stimulasi untuk memuntahkanya atau dengan menggunakan pencahar. Sebaliknya , para penderita anoreksia akan makan dalam jumlah yang sangat sedikit sehingga mereka menjadi sangat kurus.

3.      Manusia Dalam Konteks Remaja    
              Anak –anak yang berusia 12-13 tahun sampai 19 tahun sedang berada dalam pertumbuhan yang mengalami masa remaja. Maka remaja termasuk masa yang sangat menentukan . karena pada masa ini anak-anak mengalami perubahan fisik dan phisikisnya terjadinya perubahan kejiwaan menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga hal ini disebut oleh orang barat sebagai periode srrum und drag . sebabnya karena mereka mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan juga sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat.
a.                                                   Ciri-ciri remaja
1.                                       Pertumbuhan fisik .
2.                                       Perkembangan seksual.
3.                                       Cara berpikir kausalitas.
4.                                       Emosi yang meluap-luap.
5.                                       Mulai tertarik kepada lawan jenis.
6.                                       Menarik perhatian lingkungan.
7.                                       Terikat dengan kelompok.
Ketiga variabel yang sudah dijelaskan di atas bahwa pengaruh stres sangat mempengaruhi makan pada remaja .

B.                                      Karangka Berpikir
              Manifestasi seseorang yang sedang mengalami stres dapat dilihat dari perubahan-perubahan perilaku (behavior changes) terutama bagi para ekskutif. Pada umumnya para eksekutif menyangkal (deniel) dan menutup-nutupi bahwa dirinya sedang mengalami stres, akan tetapi, dari perubahan-perubahan perilaku yang bersangkutan dapat diamati bahwa ia sedang mengalami stres dan perubahan-perubahan perilaku itu merupakan mekanisme konvensasi.
              Ketika seroang remaja dihadapkan pada masalah yang berat atau ringan, maka secara tidak langsung seorang remaja akan mengalami stres.
              Hans Selye mempublikasikan desetress of life, selye adalah ilmuan pertama yang berusaha menjelaskan cara strestor eksternal “menyusup” dan membuat kita sakit, strestor lingkungan seperti panas, dingin, kebisingan, rasa sakit, dan bahaya. Menurut selye, mengganggu keseimbangan tubuh, tubuh kemudian menggerakkan sumber-suber dayanya untuk melawan strestor-strestor tersebut dan mengembalikan fungsi tubuh ke keadaan normal. Cara stres menyebabkan penyakit, mempercepat proses penuaan, dan bahkan menimbulkan kematian dini. Setiap ujung kromosom membawa sekumpulan protein yang menentukan tentang usia sel. Setiap kali sel membelah, enzim-enzim membagi protein kecil ini, ketika jumlah protein ini telah berkurang hingga hampir tidak ada, sel pun berhenti membelah dan mati.
              Sebelum seorang anak beranjak dewasa, setiap anak akan mengalami masa pubertas (remaja awal), pada fase ini seseorang belum memiliki komitmen atau jati diri yang kuat dan emosi yang sering kali tak setabil, hal inilah yang menyebabkan timbul gejala stres dan berdampak buruk kepada tubuh karena menurunkan motivasi makan. Dan stres akibat putus cinta juga dapat berpengaruh besar untuk menurunkan bahkan menghilangkan nafsu makan dan akibatnya mengalami gangguan pada psikis dan pisik.
              Dalam penelitian ini, seorang remaja yang sedang dihadapkan stres akan mudah mengalami perubahan-perubahan pada tingkah laku. Hal ini karena salah satu ciri dari remaja adalah emosi yang meluap-luap, keadaan emosi remaja masih labil karena erat hubungannya dengan keadaan hormon.
Asumsi
              Dengan memperhatikan keterangan yang telah dipaparkan pada kerangka pemikiran di atas, maka peneliti mencoba merumuskan asumsi sebagai berikut :
1.                           Setiap manusia pernah merasakan stres.
2.                           Stres merupakan ujian hidup dan stres bisa berdampak positif apabila seseorang yang diserang gejala stres dapat bertahan dan mampu mengelolah stres sebagai cambuk untuk menjadikan seseorang lebih dewasa.
3.                           Stres juga berpengaruh besar pada kesehatan tubuh. Hal ini dikarenakan motivasi makan menurun pada remaja.
4.                           Akibat dari  stres banyak remaja yang mengalami gangguan makan dan berdampak buruk bagi gizi.
5.                           Dengan demikian, ramaja yang tidak mampu mengelolah stres akan berdampak negatif (fatal).

C.                                     Hipotesis
              Berdasarkan kerangka pemikiran dan asumsi yang telah dikemukakan, maka dalam penelitian ini akan diajukan hipotesisi sebagai berikut “terdapat pengaruh yang besar antara stres dan motivasi makan pada remaja”.
Hipotesis utama tersebut terinci dalam sub hipotesis sebagai berikut :
1.                                       Terdapat pengaruh positif antara stres dan pemikiran pada remaja.
2.                                       Terdapat pengaruh negatif antara gejala stres dan motivasi makan pada remaja.
3.                                       Terdapat dampak yang sangat buruk akibat gejala stres terhadap kesehatan tubuh dan tingkah laku pada remaja.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.                         Desain Penelitian
                 Penelitian ini mencoba menjelaskan pengaruh stres dan berdampak buruk terhadap motivasi makan dan kesehatan tubuh pada remaja.
B.                         Identifikasi Variabel
Dalam penelitian ini terdapat variabel bebas (x) yaitu gejala stres dan variabel terikat (y) adalah motivasi makan pada remaja.
C.                         Defenisi Operasional
              Berdasarkan penjelasan mengenai gejala stres dan berdampak buruk atau menurun pada motivasi makan remaja, maka akan dijumpai akibat gejala stres dapat menurun atau meninggkatkan motivasi makan pada remaja. Jika kita melihat dari salah satu ciri remaja yaitu emosi yang meluap-luap dalam arti, emosi dan pemikiran yang belum terkontrol dengan baik (belum stabil). Maka ramaja ketika dihadapkan pada suatu masalah dan mengalami stres, jika remaja tidak dapat mengolah stres itu dengan baik, hal ini akan berpengaruh terhadap motivasi makan yang mengakibatkan buruknya kesehatan tubuh (gizi yang buruk).
              Sebaliknya jika remaja dapat mangolah gejala stres dengan baik, maka stres dapat berdampak positif bagi psikis remaja, hal ini dijelaskan dari banyak buku tentang stres jika kita melihat stres dari sudut pandang agama islam, defenisi stres adalah ujuan dari tuhan, itu aritnya ketika kita seorang remaja  dapat menghadapi ujian itu dengan sabar, seperti sabda Nabi SAW “semoga Allah menurunkan rahmatNya kepada musa yang lebih banyak mendapatkan cobaan dari pada umat ini, namun ia bisa bersabar”.
              Dari sabda Nabi di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa Nabi saja yang merupakan manusia pilihan Allah dan dijamin masuk surga dapat sabar atas ujiannya. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa stres terhadap motivasi makan pada remaja dapat berdampak buruk pada tubuh remaja.

D.                         Populasi Dan Sampel.
              Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai keunikan dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian di tarik kesimpulan (Sugiono, 1994 :30), populasi dapat juga diartikan sebagai seluruh yang akan diteliti. Populasi dalam penelitian ini ialah remaja masjid perumahan indah perdana lestari pekanbaru yang berjumlah 120 orang, oleh karena itu populasi lebih dari 100 orang, maka sampel yang diambil hanya 60 orang sampel penelitian.
Sampel adalah bagian dari populasi saja yang diambil dan dipergunakan untuk menentukan sifat serta ciri yang dikehendaki dari populasi.
Karekteristik dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.                                                   Remaja masjid syukron perumahan indah perdana lestari usia 17-20 tahun.
2.                                                   Remaja berlatar belakang berpendidikan.
3.                                                   Remaja tidak mengalami cacat fisik dan mental.

E.                          Metode Pengumpulan Data
teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui referensi-referensi yang terdapat dalam buku-buku dan data-data yang bersangkutan dengan pembahasan kemudian menggunakan dokumentasi.
F.                          Analiasa Data
Metode analisa akan dilakukan dengan analisa deskriptif yaitu dengan cara mendiskripsikan data-data hasil penelian untuk mengahsilkan suatu kesimpulan mengenai penelitian yang dilakukan. Jika memungkinkan, analisis deskriptif tersebut dapat juga didukung dengan analisis kuantitatif dan tertabulasi data hasil penelitian dari penulis.




DAFTAR PUSTAKA

Feinberg, M. 2004. Kedewasaan Menurut Pandangan Psychologi Dan Masyarakat Awam, Proposal, Jakarta : UI.
Lismawati.2005. Hubungan Gaya Pola Asuh Orang Tua, Proposal. Pekanbaru. UIN
Sapuri, R. 2009. Psikologi Islam. Jakarta : Rajawali Pers.
Syamsun, A. 2009. Metode Supernol Menaklukan Stres, Jakarta Selatan :Hikmah.
Wade. Carol T. 2007. Psikologi Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Wade. Carol T. 2007. Psikologi Jilid 2. Jakarta : Erlangga.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar